Jakarta, Annirell.Com >> Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Bengkulu terus mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) daerah agar semakin berdaya saing dan mampu menembus pasar yang lebih luas.
Upaya tersebut diwujudkan melalui keikutsertaan UMKM binaan Bengkulu dalam gelaran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 yang berlangsung pada 20–23 Agustus 2026 di Hall A dan B Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.
Dalam kegiatan tersebut, KPw BI Bengkulu memfasilitasi 32 UMKM unggulan Bengkulu untuk berpartisipasi melalui kanal daring. Dari jumlah itu, enam UMKM turut tampil secara langsung di JICC, terdiri atas dua UMKM wastra serta empat UMKM makanan dan minuman.
QRISperience Week Bengkulu 2026 Hadirkan Wisata Sejarah dengan Tiket Rp81 melalui QRIS
15/08/2026
Partisipasi tersebut membuahkan hasil positif. UMKM binaan KPw BI Bengkulu mencatatkan total transaksi penjualan sebesar Rp955.491.033 selama gelaran KKI 2026.
Pada kategori wastra, Batik Kagano menampilkan beragam kain khas Bengkulu, sedangkan Swarnabumei menghadirkan produk ready to wear yang mengangkat motif dan identitas daerah, seperti besurek dan bunga rafflesia.
Sementara itu, sektor makanan dan minuman diwakili CV Jaya Rasa Bengkulu, Giwigewi, Kerupuk Keite, dan Sari Aren yang hadir di KKI Mart.
Pekan QRIS Nasional 2026, BI Bengkulu Tekankan Keamanan di Tengah Pesatnya Transaksi Digital
13/08/2026
Selain mendorong penjualan, KPw BI Bengkulu juga membuka peluang perluasan pasar melalui business matching dengan korporasi dan calon mitra pembeli.
Salah satu capaian penting diraih Kopi Bukit Barisan yang berhasil menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan Indonesia Specialty Coffee untuk pembelian awal sebanyak 500 kilogram Kopi Robusta Bengkulu.
Kesepakatan tersebut memiliki nilai kontrak awal sebesar Rp35,5 juta.
Capaian itu dinilai menjadi langkah penting bagi UMKM Bengkulu dalam memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk daerah hingga ke pasar yang lebih luas.
Selain Kopi Bukit Barisan, UMKM Bengkulu yang turut mengikuti business matching antara lain Pak Sahid Coffee, Lestari Coffee, dan CV Jaya Rasa Bengkulu.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, mengatakan keikutsertaan puluhan UMKM Bengkulu di KKI 2026 menunjukkan bahwa produk lokal semakin siap bersaing dan membangun kemitraan dengan korporasi.
“Kehadiran 32 UMKM Bengkulu di KKI 2026, baik di sektor wastra, kriya, makanan dan minuman maupun kuliner, adalah manifestasi dari program pembinaan yang konsisten,” ujar Wahyu.
Menurutnya, capaian transaksi serta penandatanganan kontrak kemitraan menjadi bukti bahwa produk kopi dan UMKM Bengkulu lainnya mampu merespons Gerakan Korporasi Gandeng UMKM secara nyata.
Ia menambahkan, UMKM Bengkulu kini semakin siap untuk naik kelas, memperoleh akses pembiayaan yang lebih luas, serta terintegrasi dalam rantai nilai berskala nasional.
Secara nasional, KKI 2026 diselenggarakan Bank Indonesia sebagai bentuk komitmen mengembangkan UMKM guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
KKI 2026 mengusung semangat “BeudayaMeusareSare” dari Aceh yang bermakna berdaya dan bersama-sama. Gelaran tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendorong kebangkitan UMKM di wilayah Sumatera dan Nusa Tenggara Timur yang terdampak bencana alam.
KKI 2026 diikuti lebih dari 550 UMKM secara luring dan lebih dari 1.300 UMKM melalui platform digital. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan penyelenggaraan KKI 2025 yang diikuti 362 UMKM secara luring dan lebih dari 1.100 UMKM secara daring.
Bank Indonesia menargetkan penguatan UMKM melalui peningkatan kapasitas usaha, perluasan akses pasar dan pembiayaan, serta percepatan digitalisasi.
KPw BI Bengkulu mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat kolaborasi dalam mendukung UMKM agar bangkit, tangguh, berdaya saing, dan semakin cepat naik kelas.
Sinergi antara korporasi, perbankan, pemerintah, dan pelaku usaha dinilai penting untuk membangun ekosistem yang memberikan ruang lebih besar bagi UMKM daerah untuk tumbuh sekaligus menjadi penggerak ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. (***)

