KUR 2023 Ketidakpastian Dalam Jangka Pendek Namun Positif Untuk Jangka Panjang

Jakarta >> Pemerintah akhir-akhir ini telah memfinalisasi anggaran KUR untuk tahun 2023 sebesar Rp450 triliun (+21%) namun porsi untuk BBRI hanya naik +4% yoy menjadi Rp270 triliun.

Dilansir pada laman Ipot.news dalam jangka pendek masih ada ketidakpastian terkait bunga KUR namun ada beberapa perubahan yang akan berdampak positif dalam jangka panjang antara lain persyaratan yang lebih ketat bagi debitur, siklus maksimum untuk KUR dan kenaikan bertahap untuk bunga pinjaman.

Saat ini BBRI diperdagangkan pada PBV 2.1x (-1 s.d ) dan PER 12.6x, dan masih ada ruang yang cukup luas untuk memangkas biaya kredit (CoC) meskipun ada kekhwatiran terkait margin bunga bersih (NIM). (***)

Ada Empat Risiko Dibalik Investasi Atau Trading Yang Harus Diketahui

Jakarta >> Di dalam dunia investasi atau trading secara umum terdapat empat risiko yang perlu cermati oleh investor agar investasinya tidak “loss” terlalu dalam.

Dilansir pada laman Ipot.News, yang mana Co-Founder Jelita Trading Bareng, Mono S. Patriabudi mengatakan meski risiko dibalik investasi atau trading adalah hal yang biasa, namun dengan strategi yang tepat risiko tersebut dapat ditekan atau bahkan dihindari oleh investor. Menurutnya semakin besar risiko yang ada di hadapan investor, biasanya dibarengi juga dengan potensi keuntungan yang besar juga.

Untuk risiko pertama yaitu basic risk yang berkaitan dengan posisi size kita sebagai seorang investor/ trader di market. Kedua, general market risk factor. Hal ini berkaitan dengan performa emiten seperti di saat investor sudah yakin terhadap suatu emiten, baik dari sisi fundamental yang baik maupun sisi teknikal yang bagus namun di pasar sedang dalam tren turun.

“Sebagus apapun emiten tersebut, kemungkinan besar akan terpengaruh juga pada risiko kedua ini,” kata Mono di Jakarta, Senin (12/12).

Ketiga, risiko volatilitas yang terkait dengan timing atau momentum seorang trader atau investor masuk ke satu emiten tertentu. Saat investor mengetahui momentum yang tepat untuk melakukan investasi atau trading maka peluang untuk mengambil keuntungan juga besar.

“Kita juga bisa terkena impact volatility di sini jika masuk terlalu cepat atau keluar terlalu cepat. Jadi momentum di sini akan sangat terkait dengan volatility risk,” katanya.

Keempat, risk dari likuiditas dimana seorang trader atau investor dananya bisa nyangkut ke salah satu emiten pilihannya karena faktor likuiditas dari perusahaan atau emiten tersebut.

“Misal emiten LQ45 yang memiliki likuiditas besar kita kadang bisa beli, dan juga kita bisa keluar (jual) juga. Atau ada pula emiten dengan likuiditas rendah sehingga acapkali investor/trader bisa melakukan beli tetapi tidak bisa jual, dan akhirnya nyangkut atau terjebak di saham tersebut. Ini yang namanya risiko dari sisi liquidity,” ujarnya. (***/rls)

Annirell.Com - Media Siber - Berita, Publikasi, Banner dan Ucapan - Hotline : 082176018559 - 087791104004..🤗

Logam Kuning Bersinar, Pasar ‘Wait and See’ Risalah Bank Sentral Amerika

Jakarta >> Harga emas menguat pada awal jam perdagangan Asia, Selasa (03/01/2023), dengan perhatian pasar beralih ke risalah dari pertemuan kebijakan terbaru Federal Reserve yang dijadwalkan pekan ini.

Dilansir pada laman resmi Ipot.News, harga emas di pasar spot naik 0,36% menjadi USD1.830,58 per ons pada pukul 09.28 WIB, sementara emas berjangka Amerika Serikat meningkat 0,48% menjadi USD1.835,00, demikian laporan Reuters, di Bengaluru, Selasa (3/1/2023).

Risalah dari pertemuan kebijakan Desember Fed dijadwalkan Rabu (4/1/2023), yang dapat memberikan petunjuk tentang jalur pengetatan bank sentral. The Fed menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin (bps) pada Desember setelah empat kenaikan berturut-turut masing-masing sebesar 75 bps.

Emas dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi, tetapi suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan opportunity cost memegang logam kuning karena tidak memberikan imbal hasil.

Konsumen terbesar emas, China, melaporkan tiga kematian Covid-19 pada 2 Januari, kata Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China.

Untuk sebagian besar ekonomi dunia, 2023 akan menjadi tahun yang sulit karena mesin utama pertumbuhan global – Amerika Serikat, Eropa dan China – semuanya mengalami perlambatan aktivitas, kata Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional, Kristalina Georgieva, Minggu.

Sementara itu, sebuah survei yang dirilis Senin menunjukkan bahwa penurunan aktivitas manufaktur zona euro kemungkinan telah melewati titik terendahnya karena rantai pasokan mulai pulih dan tekanan inflasi mereda.

Harga perak di pasar spot naik 0,83% menjadi USD24,24 per ons, platinum bertambah 0,01% menjadi USD1.074,41 dan paladium melemah 0,3% menjadi USD1.788,97. (***)

Pasar Masih Dalam Bayang Pelemahan, Buy on Weakness XBNI, XILV, dan XIFE

Jakarta >> XBNI, XILV, dan XIFE berada di jajaran ETF di etalase Ipotfund yang direkomendasi untuk dikoleksi saat harga melemah (buy on weakness) pada perdagangan terakhir September, Jumat (30/09), hal ini dilansir pada laman resmi IPOTNews.

“Indeks ditutup membentuk pola long black marubozu yang merupakan sinyal bearish continuation, stochastic memasuki zona oversold dan MACD histogram divergence negatif. Target pelemahan indeks pada level 7.000 kemudian 6.965 dengan resist di level 7.070 kemudian 7.105,” papar Tim Analis Indo Premier Sekuritas dalam catatannya pagi ini.

Berikut teknikal 3 ETF dengan rekomendasi Buy on Weakness dari Indo Premier:

  1. XBNI (1.154), BNI-AM Nusantara MSCI Indo ETF
    Rekomendasi: Buy on Weakness
    Harga ditutup di bawah EMA5,10 dan membentuk pola doji yang merupakan sinyal indecision, stochastic netral dan MACD histogram divergence negatif. Target harga beli pada level 1.148 dengan resist di level 1.163 kemudian 1.174.
  2. XILV (130), Insight ETF FTSE LVF Index
    Rekomendasi: Buy on Weakness
    Harga ditutup di bawah EMA5,10 dan membentuk doji yang merupakan sinyal indecision, stochastic netral dan MACD histogram divergence negatif. Target harga beli pada level 129 dengan resist di level 131 kemudian 132.
  3. XIFE (116), Premier ETF FTSE Indonesia ESG
    Rekomendasi: Buy on Weakness
    Harga ditutup di bawah EMA5,10 dan membentuk pola small bearish candle, stochastic netral dan MACD histogram divergence negatif. Target harga beli pada level 115 dengan resist di level 117 kemudian 118.

Kemarin, saat IHSG berakhir melemah -0,58 persen, sebagian besar ETF di Ipotfund belum mampu berbalik ke zona ekspansi. Dari 27 ETF di Ipotfund, lima tercatat berhasil bergerak ke zona ekspansi, selebihnya melanjutkan kontraksi. (***)

Terkatrol Intervensi BI, Rupiah Berbalik ke Zona Penguatan

Jakarta >> Kurs rupiah berbalik menguat tipis terhadap dolar AS petang ini, didorong intervensi Bank Indonesia, hal ini dilansir pada laman resmi IPOTNews.

Mengutip data Bloomberg, Selasa (27/9) pukul 15.00 WIB, kurs rupiah akhirnya akhirnya ditutup pada level Rp15.124 per dolar AS, menguat 5 poin atau 0,04% dibandingkan Senin (26/9), yakni Rp15.129.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengatakan Indeks Dolar (Indeks DXY) sebetulnya menguat pada perdagangan Selasa.

“Kenaikan suku bunga acuan sejumlah bank sentral utama mendorong meningkatnya permintaan safe haven dolar AS,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Selasa.

Fokus pelaku pasar sekarang tertuju pada pidato Chairman Federal Reserve, Jerome Powell, Rabu, untuk isyarat lebih lanjut tentang kebijakan moneter Amerika Serikat. “Powell memberikan nada yang sangat hawkish selama pertemuan The Fed minggu lalu,” ujar Ibrahim.

Selain itu, perlambatan ekonomi China tahun ini juga berdampak pada sentimen pasar di Asia, mengingat status negara itu sebagai pusat perdagangan utama untuk kawasan tersebut.

Di dalam negeri, rupiah bisa membalik menguat tipis akibat pemerintah dan Bank Indonesia terus melakukan intervensi.

“Baik melalui bauran strategi maupun pasar valas dan obligasi di perdagangan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF),” tutur Ibrahim. (***)

Akibat Resesi Ekonomi Global Mendekat Harga Minyak Tumbang

Jakarta >> Harga minyak dunia anjlok sekitar 5% ke level terendah delapan bulan pada akhir pekan ini karena dolar AS mencapai level terkuatnya dalam lebih dari dua dekade. Seperti dilansir pada IPOTNews menerangkan pelemahan minyak juga terjadi di tengah kekhawatiran kenaikan suku bunga akan mengarahkan ekonomi ke dalam resesi, memangkas permintaan minyak.

Brent berjangka turun $4, atau 4,4%, menjadi $86,46 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun $4,45, atau 5,3%, menjadi $79,10.

Itu menempatkan kedua benchmark ke wilayah oversold secara teknikal dan WTI di jalur untuk penutupan terendah sejak 10 Januari dan Brent di jalur untuk penutupan terendah sejak 13 Januari.

Posisi harga tersebut adalah penurunan minggu keempat berturut-turut baik brent maupun WTI. Pertama kali ini terjadi sejak Desember. Keduanya secara teknikal berada di wilayah oversold, dengan WTI di jalur untuk penyelesaian terendah sejak 10 Januari dan Brent untuk terendah sejak 14 Januari. Bensin dan solar AS juga turun lebih dari 5%.

Federal Reserve AS menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin pada hari Rabu. Bank-bank sentral di seluruh dunia mengikuti dengan kenaikan mereka sendiri, meningkatkan risiko perlambatan ekonomi.

“Karena kekhawatiran pertumbuhan global mencapai mode panik mengingat target komitmen bank sentral untuk memerangi inflasi. Tampaknya bank sentral siap untuk tetap agresif dengan kenaikan suku bunga dan itu akan melemahkan aktivitas ekonomi dan prospek permintaan minyak mentah jangka pendek,” kata Edward Moya, analis pasar senior di perusahaan data dan analitik OANDA.

Dolar AS berada di jalur untuk penutupan tertinggi terhadap sekeranjang mata uang lainnya sejak Mei 2002. Dolar yang kuat mengurangi permintaan minyak dengan membuat bahan bakar lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

“Kami memiliki dolar yang meledak lebih tinggi dan menekan komoditas berdenominasi dolar seperti minyak, serta meningkatnya kekhawatiran atas resesi global yang akan datang karena bank sentral menaikkan suku bunga,” kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC di New York.

Survei menunjukkan penurunan aktivitas bisnis zona euro yang semakin dalam pada bulan September. Ini menunjukkan resesi membayangi karena konsumen mengendalikan pengeluaran dan karena pemerintah mendesak konservasi energi menyusul langkah Rusia untuk memotong pasokan Eropa.

Indeks utama Wall Street turun lebih dari 2% pada hari Jumat karena investor khawatir tindakan kebijakan hawkish Federal Reserve AS untuk meredam inflasi dapat memicu resesi dan mengurangi pendapatan perusahaan. Indeks dolar mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua dekade, menekan harga minyak.

Rusia meluncurkan referendum yang bertujuan untuk mencaplok empat wilayah yang diduduki Ukraina, meningkatkan spekulasi perang dalam apa yang disebut Kyiv palsu.

Di sisi penawaran, upaya untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran 2015 telah terhenti karena Teheran bersikeras pada penutupan penyelidikan pengawas nuklir PBB, kata seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS, mengurangi ekspektasi kebangkitan ekspor minyak mentah Iran. (***)

Strategi BRIS Akusisi Lahan Beserta Bangunan di Sekitaran Istana Kepresidenan

Jakarta >> PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), tampaknya berupaya menaikkan gengsi dengan membeli lahan dan bangunan di sekitaran Istana kepresidenan, tepatnya di Jalan Medan Merdeka Selatan No 17, Jakarta.

Seperti dilansir pada IPOTNews menjelaskan tak tanggung-tanggung, dana yang digelontorkan untuk pembelian aset ini Rp755 miliar sebelum pajak.

“Dengan dilakukannya transaksi ini, Perseroan akan memiliki tanah dan bangunan di lokasi yang strategis yang akan mendukung kegiatan Perseroan,” demikian sebut manajemen BRIS lewat keterbukaan informasinya ke otoritas Bursa, Selasa (20/9).

Diungkapkan, lahan dan bangunan yang dibeli dengan pendanan modal (ekuitas) itu adalah milik PT Anpa International yang tak memiliki afiliasi apapun dengan Perseroan. Adapun pembelian aset disebutkan pada 19 September 2022. (***)

Penjualan Eceran Agustus 2022 Tumbuh 5,4%

Jakarta >> Kinerja indeks penjualan eceran pada Agustus 2022 ke level 202,8 atau tumbuh 5,4% (yoy). Dilansir pada IPOTNews menerangkan hal tersebut didukung oleh peningkatan penjualan kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Sedangkan secara bulanan, penjualan eceran diperkirakan tumbuh 1,3% (mtm) setelah sebelumnya mengalami kontraksi selama 3 bulan terturut-turut.

Hal ini terutama didorong oleh peningkatan penjualan kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta perbaikan kelompok suku cadang dan aksesori dari sisi harga, tekanan inflasi pada Oktober 2022 diperkirakan menurun dan Januari 2023 meningkat.

Ekspektasi Harga Umum (IEH) Oktober 2022 tercatat 135,3, lebih rendah dari 137,5 pada bulan sebelumnya.

“Sementara IEH Januari 2023 tercatat 144,7 atau lebih tinggi dari 138,5 pada bulan sebelumnya,” ujar Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono dalam keterangannya, Jumat (9/9). (***)

Aliran Dana Asing Berlanjut, Koleksi ETF Berbobot Besar di Saham Finansial

Jakarta >> Posisi sebagai penghasil komoditas menguntungkan posisi investasi di Indonesia sehingga dana asing diyakini akan terus mengalir di saat gejolak pasar global saat ini. Seperti dilansir pada laman IPOTNews menerangkan, investor direkomendasikan untuk mengoleksi ETF dengan bobot saham finansial yang tinggi (di atas 50%).

“Kami merekomendasikan beberapa nama ETF yaitu XISR (Premier ETF SriKehati) yang berisi emiten dengan wawasan sosial, pengelolaan korporasi, dan lingkungan yang tergolong baik. ETF XIPI (Premier ETF Pefindo I-Grade), ETF XIML (Premier ETF MSCI Indonesia Large Cap), XBNI (BNI-AM MSCI Indonesia ETF), dan XBIG (BNP Paribas IDX30 Growth ETF),” papar ETF Desk Indo Premier Sekuritas dalam catatannya pagi ini, Rabu (07/09/2022).

Global Market Wrap
Wall Street bergerak fluktuatif dan akhirnya ditutup melemah. Data non-manufaktur PMI yang solid berpotensi semakin mengokohkan langkah The Fed dalam menaikkan suku bunga acuan di Sept22. Menjadi sentimen negatif yang menekan Wall Street kemarin. Disisi lain, kekhawatiran di Eropa masih terjadi dengan dihentikannya supplai gas Nord Stream oleh Rusia ke Eropa dan rencana kebijakan yang akan dilakukan oleh Perdana Menteri Inggris yang baru, Liz Truss.

“Hari ini IHSG kami prediksi bergerak bervariasi cenderung menguat di 7,205 dan resistance di 7,265.”

Berikut update pasar untuk hari ini:

ADRO: Dalam pertemuan Non Deal Roadshow, manajemen ADRO kembali menegaskan proyek transformasi dan pertumbuhan (Seperti proyek smelter alumunium dan kawasan industri Kaltara). Manajemen mengharapkan adanya peningkatan volume produksi batu bara dan diskon harga jual rata-rata (ASP) yang lebih rendah untuk mendukung pencapaian laba bersih di 3Q22. Maintain Buy.

INTP: Perpanjang rencana buyback sebesar Rp3tn sampai 6 Desember 2022. Dimana periode buyback itu dilakukan per hari ini. Terdapat sisa dana sebesar Rp294bn dan 489mn lembar saham yang dapat dibeli oleh manajemen.

INCO: Berencana bekerjasama dengan Taiyuan Iron & Steel (Tisco) dan Shandong Xinhai Technology untuk membuat Smelter sebesar Bahodopi senilai US$2.1bn. RKEF Smelter ini diprediksi akan selesai pada 2025 dan memproduksi sebesar 73-80k ton nickel per tahun.

Policy: Pemerintah melalui Menteri Keuangan akan membuat skema burden sharing dengan pemerintah daerah dimana dua rencana yang akan diimplementasi 1.) pengeluaran subsidi dan kompensasi energi untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak bbm 2.) Membedakan pembayaran regional dan pusat untuk dana pensiun ASN.(***)

ERAA Gelar Buyback Saham Lagi, Siapkan Dana 300 Miliar

Jakarta >> Manajemen PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) menyiapkan lagi aksi buyback saham. Kali ini periode buyback akan berlangsung secara bertahap dari 8 September 2022 hingga 7 Desember 2022 dengan anggaran sebanyak-banyaknya 300 miliar.

Seperti dilansir pada laman IPOTNews menerangkan Manajemen ERAA dalam dokumen disclosure yang dirilis hari ini, Rabu (07/09/2022) menginformasikan bahwa jumlah saham yang akan dibeli kembali tidak akan melebihi 20 persen dari modal disetor.

“Dengan ketentuan paling sedikit saham yang beredar adalah 7,5 persen dari modal disetor perseroan,” terang manajemen ERAA.

Lebih lanjut ERAA menyebut dengan anggaran sebanyak-banyak 300 miliar, saham yang akan dibeli kembali sebanyak-banyaknya 3 miliar saham atau tidak lebih dari 20 persen dari modal disetor perseroan.

“Pembelian kembali saham tidak akan mempengaruhi kondisi keuangan perseroan karena sampai saat ini, modal perseroan memadai untuk membiayai kegiatan usaha perseroan,” tambah manajemen ERAA.

ERAA mengaku, transaksi tersebut juga tidak berdampak terhadap biaya operasional perseroan sehingga kinerja laba rugi diperkirakan masih sejalan dengan target. Dengan cash flow dan modal yang cukup tidak akan memberikan dampak negatif bersifat material terhadap kegiatan usaha perseroan.

Pada kesempatan sebelumnya ERAA telah melakukan buyback saham dengan akumulasi sebanyak 123.236.400 saham. Buyback tersebut dilaksanakan dari 26 Maret 2022 hingga 22 Agustus 2022. (***)