oleh

Sejarah Prancis Menduduki Bumi Raflesia

Jambi >> Fort (Benteng) Marlborough Bengkulu pernah menjadi saksi bisu, merasakan bagaimana pedih, sakit dan porak porandanyanya dihantam meriam Prancis secara bertubi-tubi.

Dilansir pada laman Kemendikbud, kepedihan tersebut ditandai dengan delapan ratus tembakan meriam mengoyak dan merobohkan kekokohan dinding-dinding kekar/tebal Fort Marlborough.

Kerusakan luluh lantak Fort Marlborough merusak euforia kekuasaan Inggris di Bengkulu (Bencoolen) yang diganyang armada Prancis.

Adapun Armada d’Estaing memasuki dermaga dan membuang sauh tepat dibawah dinding Fort Marlborough pada 3 April 1760.

Dibawah kepemimpinan Comte d’Estaing, armadanya menghujani Fort Marlborough dengan tembakan meriam bertubi-tubi.

Pada Tanggal 1 April 1760, 200 orang berkebangsaan Eropa dengan dibantu 1800 orang lainnya berupaya memberikan perlawanan, untuk mempertahankan kedudukan kantor dagang EIC di Bengkulu.

Mereka pun akhirnya menjadi tawanan pasukan Prancis. Kemenangan besar yang diraih Comte d’Estaing mengganyang kekuasaan Inggris dan monopoli dagang rempah yang dimiliki dari bumi Bencoolen.

Serangan Prancis terhadap Inggris yang menguasai Bengkulu dilakukan setelah berlabuh di Padang pada 13 Maret 1760, Kapal-kapal Prancis menyinggahi Kota dagang penting milik Belanda.

Armada Prancis dipimpin Comte d’Estaing melanjutkan perjalanan ke Bengkulu, daerah yang dijadikan Inggris sebagai pusat perdagangan rempah yang dikendalikan EIC dari dalam Fort Marlborough.

Serangan Prancis menimbulkan kerugian yang tidak sedikit bagi EIC. Kerusakan Fort Marlborough, ditenggelam kannya Kapal Denham milik loji Inggris.

Pada 10 Mei 1760, Comte d’Estaing memimpin pasukanya menyerang Benteng Anna milik Inggris di Muko-Muko. Benteng Anna yang saat itu dijaga garnisun yang berkekuatan empat puluh orang.

Dalam kurun waktu tersebut, Comte d’Estaing juga melakukan sejumlah serangan dan menghancur kan benteng milik Inggris yang berada di sepanjang Pantai Barat Sumatera.

Serangan-serang tersebut telah menceraiberaikan empat ratus serdadu Inggris dan sejumlah tentara bayaran, serta merampas limapuluh ton merica.

Kekuasan Prancis berakhir di Bengkulu pada tanggal 10 Februari 1763.

Setelah dilakukannya penandatanganan Traktat Paris (1763). Traktat Paris 1763 merupakan perjanjian yang menyudahi perang tujuh tahun dan rekonsiliasi antara Kerajaan Prancis dengan Kerajaan Inggris setelah melakukan perundingan selama tiga tahun.

Salah satu isi tratkat tersebut, memerintahkan Prancis untuk menyerahkan jajahannya di Asia dan Afrika kepada Kerajaan Inggris, kecuali beberapa daerah yang disebutkan dalam perjanjian tersebut.

Bengkulu dengan nama dahulunya Bencoolen, salah satu wilayah yang dikuasai Prancis pada masa itu, akhirnya kembali jatuh ke dalam kekuasaan EIC yang merupakan perusahaan dagang milik Kerajaan Inggris. (BPCB Jambi/Bag.1)

Berita Utama lainnya

Jangan Lewatkan