oleh

Ranah Malayoe Bangkahoeloe

Kota Bengkulu >> Ada beberapa sumber tradisional berupa naskah melayu yang ditulis dua versi, yaitu versi Arab Melayu dengan kode : ML. 143, dan Latin Melayu dengan kode ML.148, serta Tambo Bangkahulu.

Isi kandungan naskah tersebut menceritakan tentang asal muasal bangsa Melayu yang kemudian disambungkan dengan asal mula negeri Bangkahulu (Bengkulu).

Bahoewa inilah asal oesoel radja Melajoe jang keradjaan di dalam poelaoe Soematra ini. Anak dari radja Soeltan Iskandar Zoelkarnain di Tanah besar dinamakan Radja Tiga Sila, jaitoe tiga bersaoedara, jang toewa Sri Maharadja Alif jang keradjaan di benoewa Roehoem, jang tengah Sri Maharadja Depang jang keradjaan di benoewa Tjina, jang ketjil Sri Maharadja Diradja jang keradjaan di poeloe ini”

Adapoen segala radja-radja itoe adalah menaroeh tanda kebesarannja kesaktiannja radja jang oesalli seperti jang termaktoeb di bawah ini. Pertama, menaroeh tanda kesaktian bernama Tenoen Sangsitoe menaroeh kajoe kembar setaman nan dibagi tiga kerat, sekerat pada radja Roehoem, sekerat di radja Tjina, sekerat di radja poelaoe Mas.
(Naskah Melayu ML.148).

Berdasarkan petikan bunyi naskah Melayu di atas, dapat diterjemahkan secara bebas sebagai berikut :

Bahwa nenek moyang raja-raja Melayu di pulau Sumatera ini adalah Sultan Iskandar Zulkarnain yang memerintah di Tanah Besar. Sultan Iskandar Zulkarnain mempunyai tiga orang anak yang dikenal dengan sebutan Raja Tiga Sila (tiga bersaudara),

yaitu : Sri Maharaja Alif (yang tua) yang memerintah di kerajaan Rum (yang dimaksud adalah kerajaan Istambul di Turki), yang tengah (nomor dua) Sri Maharaja Depang (memerintah kerajaan Cina), dan yang kecil (nomor tiga) Sri Maharaja Diraja yang memerintah di kerajaan Pulau Sumatera.

Selanjutnya disebutkan, bahwa ketiga raja tersebut memiliki tanda-tanda kebesaran dan kesaktiannya, berupa kain tenun serta kayu kembar setaman yang dibagi menjadi tiga potong (kerat) untuk masing-masing mendapat satu potong.

Dalam naskah Melayu serta catatan Tambo Bangkahulu, yang dimaksud dengan kerajaan di Pulau Sumatera.

Tokoh Raja Iskandar Zulqarnain, merupakan tokoh yang dianggap sebagai “primus interpares”, cikal bakal yang menurunkan raja-raja Melayu. Bahkan Raja Iskandar Zulkarnain dipersonifikasikan dengan salah seorang tokoh/raja dalam sejarah Islam, yaitu pada masa zaman Nabi Khaidir.

Selanjutnya diceritakan dalam naskah tersebut sebagai berikut :
Bahoewa ini pada mentjaritakan bangsa jang doedoek menoenggoe Negri Bangkahoeloe dari zaman dahoeloe dahoeloe sampai kepada masa jang kamoedian hingga jang hamba dapat oesoerannja itoelah jang hamba toeliskan di dalam kitab ini dengan sesoenggoehnja begimana hamba punja pengatahoean dengan tiada bohong adanja.

Tjerita jang pertama, adapoen moela moela menoenggoe Negri Benkoelen, jalah Ratoe Agoeng jang keradjaan, dan kata setengah beginda itoe bangsa manoesia iaitoe Radja dari tanah Madjapahit kata setengah Dewa dari Goenoeng Boengkoek, adapoen ra’ajat beginda itoe ada satoe bangsa manoesia nama Radjang Sawa dan roepa tinggi dan besar dari pada bangsa manoesia jang lain maka kepada oedjoeng toelang salbinja ada sedikit berlebeh seperti daging pandjang satoe djari melintang besarnja poen demikian djuga bangsa itoelah jang dipanggil Radjang berikoer dan pada masa itoe Bengkahoeloe lagi bernama Soengai Saroet Kampoeng Istana Ratoe di moedik koewala Bangkahoeloe, sebla kanan moedik namanja Bangkahoeloe Tinggi, maka Ratoe beranak bertoedjoe orang.

  1. Radin Tjili laki laki, 2. Manoek Mentjoer laki laki, 3. Lambang Batoe laki laki, 4. Toedjoeh Roempang laki laki, 5 Rindang Papan, 6 Anak Dalam Moeara Bangkahoeloe, 7 Poetri Gading Tjempaka perampoean, kamoedian dari pada itoe Ratoe soedah wafat jalah Anak Dalam jang djadi Keradjaan memerenta sekalian Radjang Sawa itoe” (Naskah Melayu, ML. 148).

Sebelumnya, status Bengkulu adalah Daerah Karesidenan yang masuk wilayah Sumatera Selatan. Kemudian melalui perjuangan para tokoh masyarakat Bengkulu, statusnya berubah menjadi provinsi berdasarkan Undang- Undang No. 9 Tahun 1967, yang diresmikan pada tanggal 18 November 1968.

Memang secara geografis, Bengkulu termasuk dalam kategori wilayah periferal (pinggiran). Meski masuk dalam kategori periferal, tidaklah cenderung ekslusif ataupun esoteris. Akan tetapi dalam perjalanan sejarahnya, Bengkulu justru menjadi ajang pelarian kaum migran maupun interniran dari berbagai etnis, baik etnis domestik (Bugis, Madura, Jawa, Melayu, Minang, Aceh, Bali, Nias, dan lain-lain), maupun etnis manca (Eropa, Afrika, India, Cina, Persia, Arab, dan lain-lain). Dan mereka (para migran maupun interniran) itu berlatar belakang kelas sosial yang bervariatif. Ada yang dari kelas adel (bangsawan), ambtenaar (pegawai), legger (tentara), handelaar (pedagang), hingga slaven (budak).

Setelah terjadi kontak sosial yang cukup intens dengan masyarakat Bengkulu setempat, benturan sosio-kultural pun tak terelakkan. Dan benturan sosio-kultural tersebut telah membawa implikasi proses enkulturasi (pembudayaan) baik secara akulturatif maupun asimilatif dalam kehidupan kebudayaan masyarakat Bengkulu.

Kontak sosio-kultural yang relatif lama membuka kesempatan membangun koloni (perkampungan atau pemukiman) yang namanya sering didasarkan atas geneologis etnisnya, seperti Kampung Melayu, Kampung Kepiri, Kampung Cina, Kampung Bali, Kampung Aceh, Kampung Bugis, Kampung Jawa, dan lain-lain. Di samping itu, ada juga nama-nama tempat/wilayah menunjukkan identitas etnis seperti Kerkap, Manna, Talo dan lain-lain.

Berbagai sebutan, gelar, atau jabatan seperti Pangeran, Kalipa, Daing, Radin, Sultan, Pasirah, Pemangku, Pembarab, Depati, Perowatin, Penghulu, Datuk Syabandar, Puggawa Lima, dan lain-lain, yang pernah populer dalam masyarakat Bengkulu juga menunjukkan keragaman corak dari berbagai budaya masyarakatnya.

Tradisi seperti Bimbang (Gedang dan Kecil), Bimbang Malim, Bimbang Melayu, Bimbang Ulu, Perkawinan Adat Jujur, Samendo, Tabut, dan pranata-pranata, serta bentuk-bentuk ritual yang lain, juga mewarnai keragaman budaya masyarakat Bengkulu.

Dan tentu saja berbagai ragam bahasa, sastra, kesenian, perumahan, pakaian, peralatan, serta wujud fisik lainnya (Rejang, Pasemah, Lembak, Serawai, Melayu, Muko-muko dan lain-lain) pun memiliki kontribusi yang sangat berharga dalam memperkaya identitas budaya masyarakat Bengkulu.

Dalam perspektif tutur lisan, masyarakat tradisional Bengkulu mempercayai bahwa yang pertama kali mendiami negeri Bangkahulu (Bengkulu) adalah Ratu Agung, yaitu seorang raja dari Gunung Bungkuk yang memerintah kerajaan Sungai Serut (kerajaan yang pertama kali di Bengkulu, Bangkahoeloe Tinggi). Ratu Agung mempunyai anak tujuh orang, terdiri dari enam anak laki-laki, dan satu anak perempuan. Nama keenam anak laki-laki yaitu :

Radin Cili, Manuk Mincur, Lemang Batu, Rindang Papan, Tujuh Rumpang, dan Anak Dalam Muara Bangkahulu.
Adapun anak perempuannya yang. paling bungsu diberi nama Putri Gading Cempaka.

Selanjutnya dikisahkan, bahwa sepeninggal Ratu Agung, si bungsu Putri Gading tumbuh berkembang menjadi seorang putri yang amat cantik, namun tetap dalam kesahajaan, serta halus budi bahasanya. Kecantikan Putri Gading Cempaka yang tiada taranya itu telah menarik perhatian para raja muda yang datang berlomba-lomba untuk meminangnya.

Salah satu diantara raja muda yang jatuh hati pada kecantikan Putri Gading Cempaka adalah Pangeran Muda dari kerajaan Aceh.

Oleh sebab itulah Pangeran Raja Muda dari kerajaan Aceh bersama rombongannya datang ke kerajaan Sungai Serut untuk meminang Putri Gading Cempaka. Namun sayang kedatangan Pangeran Muda dari kerajaan Aceh yang bermaksud untuk meminang itu ditolak oleh Putri Gading Cempaka. Akibat ditolaknya pinangan tersebut, terjadilah perang hebat antara pasukan kerajaan Sungai Serut dengan pasukan kerajaan Aceh.

Kerajaan Sungai Serut diceriterakan hancur akibat peperangan dengan kerajaan Aceh. Putri Gading Cempaka bersama keenam saudara tuanya pun harus meninggalkan kerajaannya dan bersembunyi di Gunung Bungkuk. Kerajaan Sungai Serut yang sudah hancur dan ditinggalkan oleh penguasanya, kemudian menjadi rebutan para Pasirah (Kepala Suku) Rejang. Ditengah kemelut perebutan kekuasaan, muncullah Baginda Maharaja Sakti dari kerajaan Pagarruyung. Atas kesepakatan keempat kepala suku Rejang, Baginda Maharaja Sakti diangkat menjadi raja di negeri Bangkahulu. Putri Gading Cempaka dan keenam saudara tuanya dijemput dari tempat persembunyiannya di Gunung Bungkuk. Ceritera singkatnya, Baginda Maharaja Sakti menikah dengan Putri Gadng Cempaka. Kerajaan Sungai Serut yang sudah hancur kemudian dibangun kembali oleh Baginda Maharaja Sakti, dan berganti nama Kerajaan Sungai Lemau.

Kisah Putri Gading Cempaka meninggalkan kerajaannya bersama keenam saudaranya menuju ke Gunung Bungkuk dapat diinterpretasikan sebagai sebuah pengembaraan, petualangan, pengalaman, dan sekaligus sebagai sebuah bukti peneguhan prinsip dalam menjalani kehidupan.

Masuknya ajaran Islam beserta kebudayaannya pada masyarakat Bengkulu yang diperkirakan pada abad ke-16 telah membawa implikasi perubahan sosio-kultural masyarakatnya. “Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah” yang menjadi pedoman dalam hukum adat di Bengkulu merupakan bukti nyata adanya pengaruh kebudayaan Islam yang cukup dominan.

Kuatnya tradisi Islami pada masyarakat Bengkulu dapat dilihat melalui hasil produk kebudayaannya, baik berupa produk budaya fisik seperti bangunan masjid, langgar, surau di berbagai tempat perkampungan, maupun dalam bentuk tata kelakuan, adat-itiadat dan tradisinya.

Dalam hal adat lembaga, masyarakat Bengkulu memiliki adat lembaga yang yang dikenal dengan sebutan “Adat Limbago Bangkahoeloe”. Dan dalam adat lembaga tersebut, ada sebuah aturan yang melarang keras bagi kaum perempuan dan anak-anak yang belum dewasa untuk pergi keluar meninggalkan wilayah negeri Bangkahoeloe (Bengkulu).

Bahkan dalam catatan sejarah, para kepala Adat pribumi Bengkulu pernah mengajukan protes tertulis kepada pemerintah kolonial Belanda karena ada kapal yang masuk ke Bengkulu hendak membawa anak-anak dan kaum perempuan Bengkulu keluar wilayah Bengkulu.
Untuk lebih jelasnya, berikut cuplikan surat protes dari para kepala adat Bengkulu :

Kapada Toean Resident die Bankoeloe Dariepada Toeankoe Pangoeloe akiem akiem dalam nagarie Bankoeloe poenja Pangadoean. Ada kappal datang die Bankoeloe maoe mandjapoet sagalo orang Bangala dengan orang kapiere itoe orang lagie maoe bawa anak bienie nia, dan ietoe anak binie nja orang Bangkoeloe. Adapoen adat Liembago yang tarpake dalam nagari Bankoeloe darie tempo kampanie Enggieries, sampe sama kampanie Olanda, jang tiada bole djadie parampoean Bankoeloe dangan anak Bankoeloe jang baloem Baleegh kaloear manjabarang laoet di nagarie jang laen.

Terjemahan bebasnya :
Kepada Tuan Residen di Bengkulu (maksudnya, adalah Tuan Residen Belanda Verploegh, pengganti Raffles setelah Inggris meninggalkan Bengkulu). Kami para Penghulu dan para hakim adat Bengkulu mengadukan, bahwa ada kapal yang datang di Bengkulu mau membawa orang-orang Benggala (India) dan orang-orang Kepiri (orang-orang budak belian Afrika) bersama dengan anak-anak dan istrinya orang Bengkulu.
Padahal, menurut adat lembaga yang telah berlaku di Bengkulu sejak zaman kompeni Inggris hingga kompeni Belanda, tidak boleh kaum perempuan dan anak-anak yang belum baligh (dewasa). Isi surat protes dari para kepala Adat Bengkulu tersebut di atas, telah memperjelas kuatnya tradisi islami pada masyarakat adat Bengkulu. Orang Bengkulu juga menyebut orang-orang Afrika dengan sebutan orang-orang kafir. Nahuijs menyebut para budak belian itu adalah “orang-orang kafir” yang berasal dari Madagaskar dan Mozambik yang sejak 60 tahun yang lampau di bawa oleh Kompeni Inggris ke Bengkulu.

Pada masa pemerintahan Raffles sistem perbudakan telah dihapuskan, dan selanjutnya mereka banyak yang bekerja di perkebunan milik pensiunan pegawai pemerintah Inggris. Istri-istri mereka juga bekerja dan setiap bulannya menerima upah dua ringgit Spanyol dan beras sebanyak lima kerat bambu. Mereka juga telah berasimilasi dengan penduduk pribumi setempat.

Pada waktu Inggris akan meninggalkan Bengkulu sebagai konsekuensi dari Traktaat London 1824, mereka juga ikut dibawanya. Oleh karena mereka telah beranak-pinak dengan penduduk pribumi, maka ketika mereka akan dibawa oleh orang-orang Inggris ke luar Bengkulu, telah menimbulkan protes di kalangan para kepala pribumi Bengkulu. (Olly Benkoeloen)

Benkoelen, Malayoe Bangkahoeloe

Berita Utama lainnya

Jangan Lewatkan