Imlek, Sejarah dan Perkembangannya Di Indonesia

Jakarta >> Sebelum Dinasti Qin, tanggal perayaan permulaan suatu tahun masih belum jelas. Ada kemungkinan bahwa awal tahun bermula pada bulan 1 semasa Dinasti Xia, bulan 12 semasa Dinasti Shang, dan bulan 11 semasa Dinasti Zhou di China. Bulan kabisat yang dipakai untuk memastikan kalender Tionghoa sejalan dengan edaran mengelilingi matahari, selalu ditambah setelah bulan 12 sejak Dinasti Shang (menurut catatan tulang ramalan) dan Zhou (menurut Sima Qian). Kaisar pertama China Qin Shi Huang menukar dan menetapkan bahwa tahun Tionghoa berawal pada bulan 10 pada 221 SM. Pada 104 SM, Kaisar Wu Yong Ming yang memerintah sewaktu Dinasti Han menetapkan bulan 1 sebagai awal tahun sampai sekarang. Tujuannya agar perayaan tahun baru bisa sesuai dengan masyarakat Tiongkok yang pada umumnya adalah masyarakat agraris. Pada masa Dinasti Zhou, perayaan tahun baru dilaksanakan pada saat winter solistice atau dongzhi.
Di Tiongkok, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan tahun baru Imlek sangat beragam. Dalam memaknai Imlek seperti perjamuan makan malam pada malam tahun baru, serta penyulutan kembang api.

Dirayakan di daerah dengan populasi suku Tionghoa, dilansir pada wikipedia, Tahun Baru Imlek dianggap sebagai hari libur besar untuk orang Tionghoa, dan memiliki pengaruh pada perayaan tahun baru di tetangga geografis Tiongkok, serta budaya yang dengannya orang Tionghoa berinteraksi meluas. Ini termasuk Korea, Mongolia, Nepal, Bhutan, Vietnam, dan Jepang (sebelum 1873). Di Daratan Tiongkok, Hong Kong, Makau, Taiwan, Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan negara-negara lain atau daerah dengan populasi suku Han yang signifikan, Tahun Baru Imlek juga dirayakan, dan telah menjadi bagian dari budaya tradisional dari negara-negara tersebut.

Banyak lampion merah digantung selama perayaan Tahun Baru Imlek, sebagai makna keberuntungan.
Kalender suryacandra Tionghoa menentukan tanggal tahun baru Imlek. Kalender tersebut juga digunakan di negara-negara yang telah mengangkat atau telah dipengaruhi oleh budaya Han (terutama di Korea, Jepang, dan Vietnam) dan mungkin memiliki asal yang serupa dengan perayaan Tahun Baru di luar Asia Timur.

Dalam kalender Gregorian, tahun baru Imlek jatuh pada tanggal yang berbeda setiap tahunnya, antara tanggal 21 Januari sampai 20 Februari. Dalam kalender Tionghoa, titik balik mentari musim dingin harus terjadi pada bulan 11, yang berarti tahun baru Imlek biasanya jatuh pada bulan baru kedua setelah titik balik mentari musim dingin (dan kadang yang ketiga jika pada tahun itu ada bulan kabisat). Di budaya tradisional di Tiongkok, lichun adalah waktu solar yang menandai dimulainya musim semi, yang terjadi sekitar 4 Februari.

Bersamaan dengan daur 12-tahun, masing-masing dengan shio hewan ada daur 10-tahun batang surgawi. Setiap surgawi dikaitkan dengan salah satu dari lima elemen perbintangan Tionghoa, yaitu: kayu, api, tanah, logam, dan air. Unsur-unsur tersebut diputar setiap dua tahun sekali, sementara perkaitan yin dan yang silih berganti setiap tahun. Unsur-unsur tersebut dengan itu dibedakan menjadi: kayu yang, kayu yin, api yang, api yin, dan seterusnya. Hal ini menghasilkan sebuah daur gabungan yang berulang setiap 60 tahun. Sebagai contoh, tahun dari Tikus Api Yang terjadi pada 1936 dan pada tahun 1996.

Banyak orang mengacaukan tahun kelahiran Tionghoa dengan tahun kelahiran Gregorian mereka karena tahun baru Imlek dapat dimulai pada akhir Januari sampai pertengahan Februari, tahun Tionghoa dari 1 Januari sampai hari imlek pada tahun baru Gregorian tetap tidak berubah dari tahun sebelumnya. Sebagai contoh, tahun ular 1989 mulai pada 6 Februari 1989. Tahun 1990 dianggap oleh beberapa orang sebagai tahun kuda. Namun, tahun ular 1989 secara resmi berakhir pada 26 Januari 1990. Ini berarti bahwa barang siapa yang lahir dari 1 Januari ke 25 Januari 1990 sebenarnya lahir pada tahun ular, alih-alih tahun kuda.

Pada masa Dinasti Qing, Kang Youwei (1858-1927), seorang reformis Ruisme menyarankan agar menggunakan Kongzi era yang dihitung dari tahun kelahiran Kongzi. Sedangkan Liu Shipei (1884-1919) menolak hal itu dan mengusulkan agar tahun kalender Tionghoa dihitung dari tahun kelahiran Huang Di. Yang menjadi suatu masalah adalah kapan Huang Di dilahirkan untuk dijadikan patokan perhitungan penanggalan Huang Di.

Liu Shipei memperkirakan tahun 2711 SM adalah tahun kelahiran Huang Di, jadi tahun 2008 M adalah tahun 4719 HE. Song Jiaoren (1882-1913) memperkirakan tahun 2697 SM adalah tahun kelahiran Huang Di, dan akhirnya banyak orang yang sepakat untuk menerima tahun 2697 SM sebagai awal penanggalan Huang Di. Dari angka inilah sekarang tahun baru Imlek ini bisa disebut tahun baru Imlek 4708 HE. Selain masyarakat luas, penganut Taoisme juga menyebutkan bahwa penanggalan Huang Di adalah tahun yang mereka gunakan dan menyebutnya Daoli atau kalender Tao.

Sebagian besar masyarakat Tionghoa di luar negeri dan penganut Taoisme lebih suka menggunakan penanggalan Huang Di karena Huang Di atau Kaisar Kuning ini dalam sejarah Tiongkok dianggap sebagai bapak bangsa etnis Han atau orang Tionghoa pada umumnya. Dan para Taois menggunakan penanggalan Huang Di, karena dalam kepercayaan Taoisme kaisar Kuning ini adalah pembuka ajaran agama Tao. Alasan inilah yang membuat timbulnya penanggalan Huang Di Era dan penanggalan Dao. Keduanya sama, hanya saja istilah penanggalan Dao Era atau Daoli digunakan oleh para Taois.

Sama seperti etnis Tionghoa di berbagai negara lainnya, perayaan Tahun Baru Imlek juga dilaksanakan oleh etnis Tionghoa-Indonesia sejak beratus-ratus tahun kedatangan mereka di Nusantara. Berbagai kelompok bahasa dan budaya Tionghoa mempunyai praktik perayaan yang berbeda-beda antara satu sama lainnya. Kelompok mayoritas Tionghoa-Indonesia adalah Hokkien, maka perayaan yang bercirikhas dari kelompok inilah yang paling dominan terlihat di Indonesia.

Biasanya, perayaan tahun baru Imlek berlangsung sampai 15 hari. Satu hari sebelum atau pada saat hari raya Imlek, bagi warga Indonesia keturunan Tionghoa adalah suatu keharusan untuk melaksanakan pemujaan kepada leluhur, seperti dalam upacara kematian, memelihara meja abu atau lingwei (lembar papan kayu bertuliskan nama almarhum leluhur), bersembahyang leluhur seperti yang dilakukan pada hari Ceng Beng (hari khusus untuk berziarah dan membersihkan kuburan leluhur).

Di Indonesia, selama tahun 1968-1999, perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum. Dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, melarang segala hal yang berbau Tionghoa, di antaranya Imlek.

Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan tahun baru Imlek pada tahun 2000, ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14/1967. (***)

Sejarah Fort Marlborough

Jambi >> Pada tanggal 25 Maret 1816, setelah menyelesaikan tugasnya di Jawa (1811 s.d 1816), Raffles ngambil cuti dengan kapal Ganges ke London dan tiba di sana pada tanggal 16 Juli 1816. Tanggal 22 februari Raffles menikah dengan nona Sophia Hull dari Irlandia, dan pada bulan Oktober tahun itu juga keluarga Raffles berangkat dari Portsmouth menuju Bengkulu. Pada tanggal 22 Maret 1818, setelah berlayar selama lima bulan melingkar Tanjung Harapan di Afrika Selatan tanpa menyinggahi satu pelabuhan pun, sampailah mereka di kota Bengkulu. Kedatangan Raffles ini untuk menjalankan pemerintahan penjajahan Inggris di Bengkulu sebagai letnan Gubernur. Rombonngan Raffles ini menemukan kota Bengkulu dalam keadaan yang porak-poranda.
Sebagai negeri yang ditinggalkan. Tidak tersedia akomodasi apa-apa bagi rombongan agung itu. Gedung-gedung milik pemerintah ditinggalkan terbengkalai. Raffles terpaksa membawa keluarganya ke sebuah rumah yang demikian rusaknya karena gempa bumi yang dahsyat hingga penduduk pribumi sekalipun tidak berani mendiaminya.

Kedatangan rombongan Raffles ini memang disambut oleh gempa bumi yang bergemuruh pada waktu itu. mulai dengan gempa bumi yang pertama, disusul oleh gemba bumi berikutnya, dan yang paling hebat terjadi pada tanggal 1 Maret 1811 yang menyebabkan hampir semua rumah hancur runtuh. Rangkaian gempa tersebut masih terus berlangsung sampai tanggal 8 April 1811 dengan dua atau tiga kali guncangan gempa sehari. Suatu bencana alam yang betul-betul merusakkan seluruh ibu kota pada waktu itu, sehingga menjadi tugas berat bagi Raffles untuk membangunnya kembali Mengenai ibu kota yang porak-poranda itu, Raffles menggambarkannya dengan kondisi hancur berantakan bagaikan sebagai kota tanpa roh. Ia menyebutkan;

inilah tempat yang paling menyedihkan yang pernah saya lihat”. Saya tidak dapat menggambarkan keadaan porak-poranda di sekitar saya. Keadaan yang terbengkalai, pemerintahan yang buruk, bencana alam berupa gempa bumi yang dahsyat, jalan raya yang tidak dapat dilalui; jalanjalan raya yang lebar di ibu kota penuh dengan rumput; bangunan milik pemerintah menjadi sarang hewan liar. Penduduk Bengkulu pada saat perjumpaan pertama dengan Raffles mengatakan bahwa Bengkulu sekarang ini adalah “tanah mati”.

Melihat keadaan sedemikian rupa, maka Raffles bertekad untuk mengadakan perubahan-perubahan radikal dalam suasana kebijaksanaan politik, pemerintahan yang bersikap kejam, dan keadaan masyarakat yang tertindas.

Tekad ini segera diselenggarakan Raffles demi nama baik Kerajaan Inggris sehingga rakyat Bengkulu mampu menyimak perbedaan antara kebijaksanaan politik pemerintahan Inggris dengan pemerintahan EIC yang penuh dengan spekulasi-spekulasi komersial kompeni Inggris beserta para agennya yang berperangai bejat.
Penarikan para residen dari pos-pos Keresidenan Luar (Out Residencies) serta penghapusan tanaman paksa merupakan langkah pertama yang dilakukan oleh Raffles. Politik pemerintahan Raffles lebih banyak memanfaatkan para Kepala Masyarakat Hukum Adat dengan mengurangi peranan dari pejabat kompeni Inggris.

Tindakan pembelaan Raffles terhadap para petani adalah menghapuskan system tanam paksa lada yang dilakukan oleh Komisaris Ewer yang kenyataannya sangat memberatkan rakyat sehingga rakyat merasa betul-betul dieksploitasi oleh para pejabat kompeni. Para Kepala Masyarakat Hukum Adat mempunyai tugas dan kewajiban yang langsung terhadap rakyatnya, termasuk keamanan dan peradilan. Jadi, hak dan kewajiban mereka menurut adat segera dipulihkan.

Dengan berlakunya sistem bebas bertanam lada, rakyat merasa lega. Perkebunan-perkebunan pala, cengkeh, dan Jada di bawah pemerintahan Raffles bertambah maju. Menurut perkiraan Raffles, para raja menanam modal 75.445 dolar dan modal bangsa Eropa berjumlah 445.437 dolar dalam perkebunan rempah-rempah di wilayah sekitar Fort Marlborough. Antara Mei 1811 dan penghujung tahun 1816 sebanyak 42.390 lb. pala, 13.383 lb. bunga pala, dan cengkeh diekspor ke India dan Inggris oleh perkebunan-perkebunan kompeni Inggris dan swasta di Bengkulu, dan bea setempat di Fort Marlborough sejumlah 4167 dolar.

Sungguh berat tugas Raffles untuk membangun kembali kota yang telah dianggap oleh penduduk sebagai tanah mati. Kondisi itu menjadi tantangan bagi Raffles, sehingga segala daya upaya dilakukannya demi pembangunan ibu kota, perdagangan, dan perbaikan keuangan pemerintah.

Raffles segera mulai membangun sebuah gedung kediaman gubernur sebagai pengganti gedung yang telah hancur, yaitu suatu gedung besar dari batu yang bertingkat dua dan indah serta berhalaman luas di tengah-tengah plansun. Bangunan itu terletak di suatu bukit dengan pemandangan Fort Marlborough dan Samudera Hindia dengan Pulau Tikus di bagian depannya. Di bagian belakangnya terhampar pemandangan Bukit Barisan dengan gunung-gunung yang biru dan menarik. Sungguh merupakan suatu bangunan megah sebagai tempat kediaman resmi seorang gubernur.

Di sekitar kediaman resmi gubernur itu dibangun pula gedung-gedung indah bertingkat dua sebagai tempat kediaman orang-orang Inggris dan orang Eropa lainnya. Bagian bawahnya dari batu dan bagian atasnya terbuat dari kayu. Di samping itu, tempat yang dibangun di atas tanah yang luas dengan pekarangan yang dipagari oleh tembok-tembok putih setinggi enam kaki yang juga diperuntukkan pula bagi orang-orang pribumi yang terkemuka.

Selain membangun kantor-kantor baru pemerintah, Raffles mendirikan pula suatu tempat peristirahatan di Pematang Balam, suatu tempat di luar kota Bengkulu, yaitu kira-kira 19 kilometer dari ibu kota ke jurusan Manna. Istana peristirahatan yang megah ini letaknya di tengah-tengah perkebunan kopi pala dan cengkeh milik pemerintah yang terawat dengan baik. Disinilah Raffles mengadakan pesta-pesta resmi yang terbuka bagi masyarakat bangsa Eropa dan orang-orang terkemuka Bengkulu dan sekitarnya. Malah, Raffles berkeinginan untuk menjadikan istana peristirahatan Pematang Balam seperti istana peristirahatan Belanda di Bogor (Jawa) dengan Kebun Rayanya dan ia berkeinginan pula untuk menjadikan ibu kota Bengkulu sebagai pusat pemerintah jajahan Inggris di Asia Tenggara.

Kerja keras Raffles berhasil membangun ibu kota Bengkulu yang benar-benar dapat dibanggakan, berpenduduk terdiri dari berbagai bangsa, yaitu Eropa, India, Cina Melayu dan Bugis. Penduduk Melayu merupakan mayoritas yang datang dari daerah sekitarnya (Minangkabau Aceh, dan Jawa) serta para nelayan. Bangsa Eropa turunan Yahudi dan Kristen merupakan golongan kecil sebagai petualang dan pedagang di samping mereka yang bekerja di pemerintah kolonial Inggris sebagai pegawai sipil dan militer. Selanjutnya terdapat kolonisasi bangsa Jerman dan bangsa Cina sebagai pedagang sejumlah 1000 jiwa yang berdiam di suatu tempat khusus. Kampung Cina, dengan kepalanya seorang Kapitan Cina Bangsa Benggali yang jumlahnya juga besar bermukim di ibu kota sebagai golongan pertukangan (handcraftsmen), tukang jahit, tukang dobi, dan lain-lain. Golongan Benggali ini umumnya menganut agama Islam. Perkawinan mereka dengan penduduk pribumi membuat mereka telah berbaur dengan penduduk asli setempat.

Selain membangun kembali ibu kota, Raffles tertarik pada keadaan pembudakan. Sebagaimana diketahui, pada tahun 1750 ada 357 budak di Fort Marborough dan 84 di daerah Luar. Selama pendudukan Prancis banyak para budak ini melarikan diri atau menghilang. Pada tahun 1695 Inggris (EIC) buat pertama kalinya mendatangkan budak belian dari Madagaskar ke Bengkulu untuk para pekerja kasar dan bagian kecil untuk menjadi tentara kompeni Inggris. Pada tahun 1766 setelah Inggris kembali ke Benggali di membawa pula tambahan budak-budak belian sehingga terdapat 400 penduduk di dalam Fort Marlborough dan 176 di daerah Luarnya. Pada tahun 1778 jumlah budak Fort Marlborough mencapai 95 orang Mukomuko, 37 orang Ketahun, 15 orang lai, Seluma Manna 5 orang, Kaur 19 dan Krue 26 orang. Keadaan para budak ini pada umumnya merana dan dipandang hina karena kompeni mempekerjakan mereka untuk membongkar dan memuat barang ke kapal-kapal yang datang dan pergi serta pekerjaan-pekerjaan lain yang kasar dan berat. 23 orang,

Di bulan April 1818, dilakukan pertemuan dengan para Kepala Masyarakat Hukum Adat, dan hasilnya Raffles menyatakan penghapusan pembudakan di seluruh wilayah jajahan Inggris. Semua budak kompeni dan kepada mereka masing-masing diberi satu sertifikat kebebasan sebagai orang merdeka. Turut serta dihapuskan sistem setoran paksa dan sistem tanam paksa lada. Selanjutnya Raffles menghapus pula perbedaan

masyarakat Eropa dan pribumi. Tempat kediamannya pun terbuka bagi masyarakat pribumi dalam segala ke sempatan, sehingga dengan cara demikian pengaruhnya terhadap rakyat semakin besar. Kebijakan-kebijakan ini akhirnya melahirkan kepercayaan penuh masyarakat terhadap Raffles sebagai pucuk pimpinan pemerintah Bengkulu.

Raffles pula yang pertama kali membangun bungalow di Bukit Kabut yang masih berhutan lebat, tetapi memiliki pemandangan alam yang indah di sekitamya. Di dalam tahun 1818 jalan-jalan raya ke Manna, Kaur dan Seluma menyusuri pantai dipelihara dengan baik.

Dalam bidang pendidikan, Raffles membangun sekolah-sekolah rakyat, di mana para remaja belajar membaca, menulis, berhitung, serta ilmu pengetahuan sekadarnya. Untuk menambah wawasan masyarakat, Raffles menerbitkan surat kabar “The Malayan Gazette” dengan percetakan sendiri di ibu kota Bengkulu dan merupakan koran pertama di seluruh Sumatra. Di ibu kota terdapat sebuah sekolah swasta yang dipimpin oleh Pendeta Ward, memiliki jumlah murid sebanyak 160 orang, yaitu memakai metode Lancaster. Alhasil, masyarakat ibu kota Bengkulu mengalami banyak perubahan peradaban. Para wanita dan pria, khususnya dari golongan hartawan pandai membaca dan menulis.

Digambarkan oleh Nahuys mengenai perubahan-perubahan social dan pendidikan yang diperoleh masyarakat Bengkulu;
“Meskipun Bengkulu dalam arti komoditas perdagangan dunia belum dapat disamakan dengan Jawa, namun dalam bidang memajukan serta memperbaiki tingkah laku dan pendidikan rakyat, Sir Thomas Stamford Raffles pantas dipuji. Dalam bidang ini, ia mendapat dukungan yang simpatik pula dari para misi agama Kristen serta para penduduk bangsa Eropa di Fort Marlborough. Di semua tempat dan di distrik, Raffles telah berhasil membangun sekolahsekolah rakyat, tempat para remaja belajar membaca, menulis, berhitung, dan belajar ilmu pengetahuan terapan yang sangat diperlukan oleh penduduk. Sebagai seorang karir pemerintahan yang banyak pengalamannya, Raffles bukanlah seorang birokrat yang hanya sekadar duduk di belakang meja saja. Akan tetapi ia juga seorang pegawai yang acapkali terjun ke lapangan untuk mengetahui keadaan wilayahnya. la menjelajahi daerah-daerah yang berada di selatan, yaitu Distrik Seluma, Manna, hingga ke Kaur. (BPCB Jambi/End)

Annirell.Com - Media Siber - Berita, Publikasi, Banner dan Ucapan - Hotline : 082176018559 - 087791104004..🤗

Sejarah Prancis Menduduki Bumi Raflesia

Jambi >> Fort (Benteng) Marlborough Bengkulu pernah menjadi saksi bisu, merasakan bagaimana pedih, sakit dan porak porandanyanya dihantam meriam Prancis secara bertubi-tubi.

Dilansir pada laman Kemendikbud, kepedihan tersebut ditandai dengan delapan ratus tembakan meriam mengoyak dan merobohkan kekokohan dinding-dinding kekar/tebal Fort Marlborough.

Kerusakan luluh lantak Fort Marlborough merusak euforia kekuasaan Inggris di Bengkulu (Bencoolen) yang diganyang armada Prancis.

Adapun Armada d’Estaing memasuki dermaga dan membuang sauh tepat dibawah dinding Fort Marlborough pada 3 April 1760.

Dibawah kepemimpinan Comte d’Estaing, armadanya menghujani Fort Marlborough dengan tembakan meriam bertubi-tubi.

Pada Tanggal 1 April 1760, 200 orang berkebangsaan Eropa dengan dibantu 1800 orang lainnya berupaya memberikan perlawanan, untuk mempertahankan kedudukan kantor dagang EIC di Bengkulu.

Mereka pun akhirnya menjadi tawanan pasukan Prancis. Kemenangan besar yang diraih Comte d’Estaing mengganyang kekuasaan Inggris dan monopoli dagang rempah yang dimiliki dari bumi Bencoolen.

Serangan Prancis terhadap Inggris yang menguasai Bengkulu dilakukan setelah berlabuh di Padang pada 13 Maret 1760, Kapal-kapal Prancis menyinggahi Kota dagang penting milik Belanda.

Armada Prancis dipimpin Comte d’Estaing melanjutkan perjalanan ke Bengkulu, daerah yang dijadikan Inggris sebagai pusat perdagangan rempah yang dikendalikan EIC dari dalam Fort Marlborough.

Serangan Prancis menimbulkan kerugian yang tidak sedikit bagi EIC. Kerusakan Fort Marlborough, ditenggelam kannya Kapal Denham milik loji Inggris.

Pada 10 Mei 1760, Comte d’Estaing memimpin pasukanya menyerang Benteng Anna milik Inggris di Muko-Muko. Benteng Anna yang saat itu dijaga garnisun yang berkekuatan empat puluh orang.

Dalam kurun waktu tersebut, Comte d’Estaing juga melakukan sejumlah serangan dan menghancur kan benteng milik Inggris yang berada di sepanjang Pantai Barat Sumatera.

Serangan-serang tersebut telah menceraiberaikan empat ratus serdadu Inggris dan sejumlah tentara bayaran, serta merampas limapuluh ton merica.

Kekuasan Prancis berakhir di Bengkulu pada tanggal 10 Februari 1763.

Setelah dilakukannya penandatanganan Traktat Paris (1763). Traktat Paris 1763 merupakan perjanjian yang menyudahi perang tujuh tahun dan rekonsiliasi antara Kerajaan Prancis dengan Kerajaan Inggris setelah melakukan perundingan selama tiga tahun.

Salah satu isi tratkat tersebut, memerintahkan Prancis untuk menyerahkan jajahannya di Asia dan Afrika kepada Kerajaan Inggris, kecuali beberapa daerah yang disebutkan dalam perjanjian tersebut.

Bengkulu dengan nama dahulunya Bencoolen, salah satu wilayah yang dikuasai Prancis pada masa itu, akhirnya kembali jatuh ke dalam kekuasaan EIC yang merupakan perusahaan dagang milik Kerajaan Inggris. (BPCB Jambi/Bag.1)

Hoax! Rupiah Jadi Alat Tukar Lima Negara

Kota Bengkulu >> Beredar sebuah video di Tiktok yang mengklaim bahwa lima negara menerima rupiah sebagai alat tukar. Negara tersebut diantaranya Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, dan negara timur tengah.

Dilansir dari turnbackhoax.id, informasi tersebut tidak sepenuhnya benar. Pada November 2022 lalu, bank sentral Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina menyepakati kerja sama konektivitas pembayaran kawasan.

Dikutip dari Kominfo.go.id, Pembayaran yang dimaksud ialah melakukan transaksi langsung enggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) atau BI Fast dengan skema local currency settlement (LCS).

Bank Indonesia (BI) terus berupaya mewujudkan kerja sama ini bukan hanya dengan empat negara di atas, melainkan akan mencakup negara-negara ASEAN bahkan negara anggota G20.

KIM DPD IKM Kota Bengkulu Sukses, Gubernur Rohidin Lebur dengan Masyarakat Minang

Kota Bengkulu >> DPD IKM Kota Bengkulu sukses mengadakan KIM (Kesenian Irama Minang), Pepy Grace dari Sumatera Barat, bertempat di Gedung Balai Buntar Kota Bengkulu, Selasa malam (20/12/2022). Dikesempatan ini Gubernur Bengkulu, Dr. drh. H. Rohidin Mersyah, M.M.A hadir melebur dengan masyarakat Minang yang ada di Kota Bengkulu. Iapun dikesempatan ini mengajak seluruh masyarakat Bengkulu terutama masyarakat minang yang merantau di Provinsi Bengkulu, untuk dapat menjaga dan melestarikan adat budaya daerah Kesenian Irama Minang (KIM). Hadir dalam acara ini Isteri Gubernur Sumatera Barat, Harneli Mahyeldi.

Ketua DPD IKM Kota Bengkulu Fahmi Pranata Sutan Rajo Ameh saat menyampaikan sambutannya.

“Selamat malam dan selamat datang bundo kanduang dari Minangkabau ibu Harneli Mahyeldi istri dari bapak Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi yang sudah berkenan hadir di bumi rafflesia,” ujar Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah.

Ia menambahkan dengan adanya kegiatan KIM “Bakumpua Basamo Urang Minang” ini diharapkan dapat lebih mempererat tali silaturhami, dan kebersamaan masyarakat minang yang merantau di Bengkulu.
Selain iapun juga berpesan kepada seluruh masyarakat minang untuk dapat menjaga adat istiadat, jaga selalu kekompakan sesuai pepatah-petitih Minang Kabau
“Dimaa Bumi Di Pijak Di Situ Langik Dijunjuang,”.

Yang beruntung, Sulaiman yang mendapatkan hadiah utama Motor Honda.

Kemudian mengawali kegiatan tersebut, ketua DPD IKM Kota Bengkulu Fahmi Pranata R. Sutan Rajo Ameh dalam sambutannya mengatakan, acara ini terlaksana atas dukungan, bantuan dan kerjasama masyarakat minang yang ada di Bengkulu, dan tidak lupa kerja keras seluruh panitia yang menyiapkan, hingga kegiatan ini terlaksana dengan sukses dan lancar.

Foto bersama Panitia beserta pembawa acara KIM.

“Tanpa adanya bantuan, dukungan dan kerjasama seluruh masyarakat minang acara KIM “Bakumpua Basamo Urang Minang” tidak mungkin terlaksana.
Ia menambahkan Kesenian KIM ini sudah familiar ditelinga masyarakat terutama masyarakat minang, namun apa itu KIM masih banyak yang belum mengetahuinya.
“KIM merupakan kesenian Minang Berhadiah dimana nantinya pemandu akan menggunakan pantun sambil bernyanyi dan di akhirnya akan menyebutkan angka mana yang keluar,” ujarnya. Yang mendapatkan hadiah utama yakni Sulaiman yang beruntung, setelah dua kali mencabut undian karena lebih 33 orang dan dikahiri 4 orang yang beruntung. (***/rls)

Sejarah Pulau Sumatera (SWARNABHUMI, SWARNADWIPA)

Time Line Sejarah pulau Sumatra dari tahun 75.000 Sebelum Masehi.

Kota Bengkulu >> Dimulai dari erupsi dahsyat Gunung Toba, terbentuknya pulau Sumatra dan sekitarnya, kemunculan serangkaian kebudayaan maju, tumbuhnya beberapa kerajaan kerajaan kuno seperti Koying dan Tupo, kebangkitan kemaharajaan Sriwijaya, invasi bangsa Tamil Chola, pendudukan oleh imperium Hindu dan Buddha dari Jawa, abad kejayaan negeri-negeri Islam, kolonialisme Belanda dan Inggris, hingga lahirnya negara Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

SEBELUM MASEHI

• 75000 SM – Erupsi Gunung Toba. Letusan dahsyat dari sebuah supervulkano yang menyebabkan perubahan iklim yang dikatakan hampir memusnahkan populasi manusia modern saat itu. Manusia itu sendiri sebenarnya belum sampai ke Sumatra, gelombang migrasi mereka dari Afrika ikut terhenti untuk sementara akibat erupsi ini. Gunung Toba kemudian tenggelam dan kalderanya membentuk sebuah danau besar yang juga bernama sama.

• 25000 SM – Gelombang pertama manusia modern sampai di benua kuno Sunda, termasuk Sumatra.

• 22000 SM – Kebudayaan Padang Bindu muncul di Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan.

• 10000 SM – Zaman Es (Kala Pleistosen) berakhir. Zaman Modern (Kala Holosen) pun dimulai. Benua Sunda lenyap akibat kenaikan permukaan laut, dan berubah menjadi sebagian dari kepulauan yang kini dikenal sebagai Nusantara.

• 9000 SM – Kebudayaan Kerinci muncul di Jambi.

• 7000 SM – Kebudayaan maju muncul di sepanjang pantai timur Langsa-Langkat.

• 4000 SM – Tahap kedua kebudayaan Padang Bindu.

• 3500 SM – Kebudayaan maju diperkirakan muncul di Aceh.

• 3000 SM – Kebudayaan maju muncul di Barus dan Minangkabau, serta pulau Nias.

• 2500 SM – Kebudayaan maju muncul di Lampung.

• 2000 SM – Padang Bindu digantikan oleh kebudayaan Pasemah, yang kemudian menyebar ke Pagaralam, Lahat, dan Bengkulu.

• 1000 SM – Barus berkembang menjadi kota pelabuhan yang ramai.

• 900 SM – Luhak Nan Tigo berkembang menjadi kebudayaan Pariaman.

• 400 SM – Kebudayaan maju muncul di wilayah Lubuk Jambi (Kuantan Singingi-Indragiri-Tebo).

• 200 SM – Peradaban awal suku Tumi berkembang di Lampung.

• 100 SM* – Peradaban awal Bukit Bakar diperkirakan muncul di Kuantan Singingi.

• 1 SM* – Bukit Bakar diperkirakan berkembang menjadi kerajaan Kandis.

ABAD KE 1-4

• 150 M – Ptolemeus menyebutkan Barus sebagai sebuah pelabuhan dagang penting di Timur Jauh dalam salah satu karya tulisnya. Diperkirakan Barus telah berkembang menjadi sebuah peradaban maju.

• 200 M – Kerajaan Skala Brak Hindu berdiri di Lampung Barat. Kandis diperkirakan mengalami gejolak politik, menyebabkan beberapa wilayah melepaskan diri.

• 206 M* – Kandis menaklukkan Koto Alang yang memberontak. Rajanya melarikan diri ke Pariaman, kemudian mengembangkan wilayah tersebut menjadi sebuah peradaban awal.

• 210 M* – Negeri Jambi Kuno diperkirakan muncul di pesisir Teluk Wen yang kini menjadi Muara Tebo. Negeri ini kemudian menaklukkan Kandis.

• 220 M – Kerajaan Koying berdiri di pedalaman Kerinci.

• 245 M – Kerajaan Tupo muncul menggantikan kedudukan Jambi Kuno.

• 280 M – Koying menaklukkan Tupo.

• 340 M – Peradaban Tulang Bawang muncul di Lampung.

• 400 M – Teluk Wen diperkirakan lenyap akibat pendangkalan berkepanjangan.
Koying memindahkan pusat pelabuhan dagang ke Kuala Tungkal.

ABAD KE 5-6

• 441 M – Kerajaan Kandali (Kantoli) muncul di Kuala Tungkal sebagai bawahan Koying, diperkirakan didirikan oleh perantau dari Kuntala, India.

• 454 M – Kandali merdeka dari Koying.

• 499 M – Tulang Bawang berkembang menjadi kerajaan.

• 512 M – Kerajaan Nagur muncul di Simalungun, didirikan oleh perantau dari Nagore, India.

• 540 M – Peradaban Kota Kapur berkembang di pesisir barat pulau Bangka.

• 563 M – Utusan terakhir Kandali ke negeri Cina.

ABAD KE-7

• 644 M – Kerajaan Koying digantikan oleh Jambi Melayu yang berpusat di Minanga.

• 650 M – Dapunta Hyang Sri Jayanasa, diperkirakan seorang bangsawan Skala Brak, mendirikan kedatuan Sriwijaya di pedalaman Ogan Komering Ulu.

• 670 M – Sriwijaya berevolusi menjadi kerajaan.

• 671 M – Seorang biksu Tang bernama I-Tsing dari Kanton mengunjungi Sumatra dan menetap di Sriwijaya selama enam bulan sebelum melanjutkan perjalanan ke Nagapattam di India.

• 672 M – Suatu perkampungan Arab Muslim berkembang di Barus. Ini merupakan komunitas Islam pertama yang ada di Nusantara.

• 682 M – Prasasti Kedukan Bukit. Sriwijaya memulai penaklukkan terhadap negeri-negeri di sekitarnya.

• 683 M – Sriwijaya berhasil menundukkan Jambi Melayu, dan menjadikan negeri-negeri di Lampung sebagai bawahannya. Jayanasa lalu mendirikan kota Palembang dan menjadikannya sebagai ibukota yang baru.

• 684 M – Prasasti Talang Tuo.

• 685 M – I-Tsing telah menyelesaikan studinya di India dan singgah kembali di Sumatra, mendapati bahwa sebagian besar pulau tersebut telah takluk di bawah hegemoni Sriwijaya.

• 686 M – Prasasti Kota Kapur. Sriwijaya menaklukkan Bangka-Belitung. Sriwijaya kemudian juga menduduki pesisir Sunda.

• 688 M – Sriwijaya berturut-turut menaklukkan Riau, Rokan, Kampar, Kuantan, Mandailing, Barus, Asahan, Bintan, Kelantan, Pahang, dan Kedah.

• 692 M – Jayanasa wafat.

• 700 M – Kebudayaan maju diperkirakan berkembang di pulau Simeulue.

ABAD KE 8

• 704 M – Sri Indrawarman naik tahta sebagai Maharaja Sriwijaya.

• 713 M – Sriwijaya mengirim utusan pertamanya ke Tiongkok (dinasti Tang).

• 718 M – Sriwijaya menjalin hubungan diplomatik dengan Kekhalifahan Islam Umayyah di Arabia. Indrawarman mengirim sepucuk surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz berisi ketertarikannya pada Islam dan permintaan untuk mengirim ulama yang dapat menjelaskan ajaran itu kepadanya.

• 739 M – Sriwijaya menjadikan kerajaan Sunda dan Galuh di Jawa Barat sebagai bawahannya.

• 752 M – Sriwijaya menaklukkan Kalingga di Jawa Tengah.

• 775 M – Dinasti Sailendra menjadi penguasa di Sriwijaya dan Mataram (Jawa). Dharanindra naik tahta sebagai Maharaja yang menyatukan kedua negara tersebut. Candi Borobudur mulai dibangun di Jawa. Prasasti Ligor. Sailendra berturut-turut menaklukkan Tambralingga (Nakhon Si Thammarat) dan Patani di Thailand Selatan.

• 777 M – Kerajaan Jeumpa didirikan di Bireuen oleh Pangeran Syahriansyah Salman dari Persia.

• 787 M – Sailendra menyerang Champa di Vietnam Selatan dan Chenla di Kamboja.

• 792 M – Samaratungga naik tahta sebagai Maharaja Sailendra.

ABAD KE 9

• 802 M – Penguasa Kamboja Jayawarman II memerdekakan diri dari Sailendra dan mendirikan kerajaan Khmer.

• 825 M – Candi Borobudur selesai dibangun.

• 840 M – Kesultanan Perlak berdiri di Aceh Timur, didirikan oleh perantau dari Persia.

• 847 M – Perpecahan Sailendra. Rakai Pikatan dari dinasti Sanjaya melepaskan Mataram dari pengaruh Sailendra. Balaputradewa, putra mahkota Sailendra di Jawa terpaksa menyingkir ke Sumatra.

• 850 M – Kerajaan Tambusai berdiri di Rokan Hulu sebagai bawahan Sriwijaya.

• 851 M – Kerajaan Lamuri diperkirakan berdiri di Aceh Besar.

• 856 M – Balaputradewa diangkat menjadi Maharaja Sriwijaya.

• 860 M – Prasasti Nalanda. Sriwijaya menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan Pala di India. Balaputradewa mendirikan sebuah biara di Nalanda sebagai bentuk persahabatan tersebut.

ABAD KE 10

• 913 M – Perlak dilanda perang saudara antara kaum Sunni dan Syiah.

• 915 M – Perang sipil Perlak berakhir dengan kemenangan kaum Syiah.

• 918 M – Sultan Alaiddin Mughat Syah wafat. Kaum Sunni kembali memegang tampuk kepemimpinan di Perlak.

• 927 M – Sriwijaya memulai invasi terhadap Mataram.

• 929 M – Perang Sriwijaya-Mataram berakhir dengan kekalahan Sriwijaya. Mataram berganti nama menjadi Medang.

• 943 M – Sriwijaya berturut-turut menaklukkan Lamuri, Pedir, dan Jeumpa.

• 986 M – Perlak kembali terpecah menjadi dua, Perlak Pesisir yang diperintah oleh kaum Syiah dan Perlak Pedalaman pimpinan kaum Sunni.

• 988 M – Sriwijaya menggempur Perlak. Sultan Syiah tewas dalam pertempuran. Perlak kembali disatukan oleh Sultan Sunni dan melanjutkan perjuangan melawan pendudukan Sriwijaya. Armada Medang dari Jawa menyerang kota Palembang, namun dapat dipukul mundur oleh laskar Sriwijaya.

• 990 M – Medang kembali menyerang Palembang dan berhasil mendudukinya.

• 992 M – Pasukan Sriwijaya merebut kembali kota Palembang.

• 997 M – Prasasti Hujung Langit. Lampung jatuh ke dalam kekuasaan Medang.

ABAD KE 11
• 1006 M – Perang Perlak-Sriwijaya berakhir. Perlak akhirnya takluk pada Sriwijaya.

• 1016 M – Sriwijaya merebut kembali pesisir Sumatra Selatan dan Lampung setelah pusat kerajaan Medang di Jawa runtuh akibat serangan dari Lwaram, salah satu negara sekutu Sriwijaya.

• 1023 M – Sriwijaya mendirikan pemerintahan langsung di Perlak.

• 1024 M – Kerajaan Tamil Chola dari India Selatan memulai invasi militer terhadap Sumatra dan Malaya.

• 1025 M – Chola menaklukkan Sriwijaya. Palembang dijarah dan rajanya ditawan. Pasukan Chola kemudian lanjut menaklukkan Panai dan Nagur, serta negeri-negeri di Malaya.

• 1028 M – Rajendra Chola menunjuk Sri Dewa sebagai raja baru Sriwijaya dibawah dinasti Chola.

• 1029 M – Chola menaklukkan Batak Tua dan Barus. Sama halnya dengan Maharaja Sriwijaya, penguasa Batak juga ditangkap dan menjadi tawanan perang.

• 1030 M – Kerajaan Hatorusan berdiri di Batak sebagai bawahan Chola, menggantikan kedudukan Batak Tua. Al-Biruni dari Persia mengunjungi Sriwijaya. Sunda-Galuh merdeka dari Sriwijaya.

• 1066 M – Sriwijaya merdeka dari Chola. Hubungan antara keduanya pun pulih kembali.

• 1067 M – Pangeran Divakara, keponakan Rajendra Chola mengabdi pada Sriwijaya kemudian dikirim sebagai duta besar ke Cina.

• 1068 M – Pemberontakan Kedah. Berhasil dipadamkan oleh Sriwijaya dengan bantuan armada Chola.

• 1088 M – Suryanarayana yang bergelar Sri Maharaja Tribuana Mauliwarmadewa mendirikan dinasti Mauli di Dharmasraya. Negeri ini menguasai Pariaman, Riau, dan Jambi, kemudian menjadikan Sriwijaya sebagai bawahannya.

• 1100 M – Kerajaan Bintan berdiri di kepulauan Riau. Wilayahnya meliputi pulau-pulau di antara Sumatra dan Malaya seperti Bintan dan Batam, termasuk Tumasik.

ABAD KE 12

• 1150 M – Tuanku Bagindo Ratu naik tahta di Dharmasraya, bergelar Sri Maharaja Srimat Trailokyaraja.

• 1158 M – Ibukota kerajaan Bintan dipindahkan ke pulau Tumasik.

• 1174 M – Dharmasraya menyerang Hatorusan dan menaklukkan Barus.

• 1178 M – Dharmasraya menundukkan mantan jajahan Sriwijaya yang belum takluk di seantero Tanah Melayu secara berturut-turut.

• 1183 M – Prasasti Grahi. Dharmasraya menaklukkan Tambralingga, kemudian menanamkan kekuasaan langsung di Palembang, mengakhiri riwayat Sriwijaya.

ABAD KE 13

• 1230 M – Di Semenanjung, Tambralingga merdeka dari Dharmasraya.

• 1248 M – Kerajaan Sungai Serut didirikan Oleh Ratu Agung di Bangkahulu.

• 1250 M – Kerajaan Siguntur berdiri di pedalaman Pariaman. Dharmasraya kemungkinan memindahkan ibukotanya ke Jambi setelah pusat kekuasaan di Pariaman direbut oleh Siguntur.

• 1258 M – Kerajaan Aru muncul di Tanah Karo, Simalungun.

• 1267 M – Marah Silu, diperkirakan seorang keturunan bangsawan Nagur, mendirikan kesultanan Pasai dan bergelar Sultan Malikussaleh. Dharmasraya kehilangan kontrol atas negeri-negeri di Aceh dan Simalungun.

• 1275 M – Kerajaan Singhasari dari Jawa memulai ekspedisi penaklukkan Tanah Melayu.

• 1282 M – Kaisar Mongol Kublai Khan mengirim utusan ke Aru menuntut agar negeri tersebut tunduk pada dinasti Yuan.

• 1284 M – Pasukan Singhasari menggempur pusat pertahanan Dharmasraya di Jambi.

• 1285 M – Kerajaan Nagur runtuh, kemungkinan besar akibat ditaklukkan oleh Aru.

• 1286 M – Prasasti Padang Roco. Dharmasraya takluk oleh Singhasari, ditandai dengan dikirimkannya dua orang putri Dharmasraya ke pusat kekuasaan Singhasari di Jawa.

• 1288 M – Singhasari berturut-turut menaklukkan Riau dan Pahang.

• 1289 M – Singhasari menggempur Nagur, Aru, dan Pasai, namun dapat dipukul mundur.

• 1290 M – Penguasa Aru memeluk Islam. Negeri ini pun menjadi kesultanan. Di tahun yang sama, Aru menjadi bawahan dinasti Yuan dan mengirim upeti ke Khanbaliq.

• 1292 M – Perlak menjadi bawahan Pasai. Aru takluk pada Singhasari.

• 1293 M – Armada Yuan-Mongol dari Khanbaliq mendarat di pulau Bangka. Mereka mendirikan permukiman dan menetap di sana selama beberapa bulan sebelum menuju ke Jawa untuk melancarkan invasi terhadap Singhasari. Marco Polo dari Venesia mengunjungi Sumatra dan singgah di Pasai. Rombongan ekspedisi Pamalayu kembali ke Jawa. Satu divisi pasukan memutuskan tetap tinggal di Simalungun dan mendirikan kerajaan Silo. Aru, Palembang, dan negeri-negeri di Malaya memerdekakan diri setelah pusat kekuasaan Singhasari di Jawa runtuh akibat konflik internal dan invasi Yuan-Mongol. Sementara Dharmasraya tetap menjadi bawahan Singhasari, yang telah digantikan kedudukannya oleh Majapahit.

• 1294 M – Adityawarman (diperkirakan orang yang sama dengan Arya Damar) lahir.

• 1297 M – Sultan Malikussaleh wafat.

• 1298 M – Raja Kecik Mambang mendirikan kerajaan Keritang di Indragiri sebagai bawahan Majapahit.

• 1299 M – Sang Nila Utama, seorang pangeran Bintan mendirikan kerajaan Singapura di Tumasik.

ABAD KE 14

• 1301 M – Aru berturut-turut menaklukkan Rokan, Kampar, Riau, dan Kandis. Armada Aru mengusir sisa pasukan Singhasari yang berjaga di sana.

• 1308 M – Adityawarman diangkat menjadi perwakilan (bupati) Majapahit atas Dharmasraya.

• 1309 M – Jayanagara, seorang keturunan Dharmasraya naik tahta sebagai raja kedua Majapahit.

• 1310 M – Catatan Jamiul Tawarikh menyebutkan bahwa Aru menjadi salah satu pusat perdagangan di selat Malaka.

• 1316 M – Akarendrawarman naik tahta di Dharmasraya.

• 1326 M – Pasai menaklukkan Tamiang.

• 1337 M – Sumpah Palapa Gajah Mada. Ia menyebutkan Aru, Palembang, dan Pahang di antara negeri-negeri yang hendak ditaklukkannya.

• 1339 M – Di bawah pimpinan Gajah Mada, Majapahit memulai invasi terhadap negeri-negeri yang belum tunduk di Sumatra dan Malaya. Berturut-turut Palembang, Aru, dan Silo takluk. Adityawarman diangkat sebagai gubernur Majapahit atas Sumatra.

• 1345 M – Ibnu Battutah dari Maroko mengunjungi Sumatra dan singgah di Pasai. Barus mengalami islamisasi dan menjadi kesultanan di bawah kekuasaan Hatorusan. Majapahit melancarkan invasi gagal terhadap Tanah Batak. Si Raja Batak diperkirakan lahir di Hatorusan.

• 1347 M – Adityawarman mendirikan kerajaan Malayapura (Pariaman) sebagai bawahan Majapahit, sekaligus menggantikan kedudukan Siguntur. Wilayah Malayapura Baru berganti nama menjadi Pagaruyung.

• 1349 M – Malayapura berganti nama menjadi Pagaruyung. Adityawarman tetap sebagai penguasanya. Majapahit menyerang Pasai, dipimpin langsung oleh Gajah Mada.

• 1350 M – Perang Pasai-Majapahit berakhir dengan kekalahan Pasai. Armada Gajah Mada kemudian lanjut menundukkan Pidie dan Lamuri.

• 1358 M – Majapahit menggempur Singapura, namun dapat dipukul mundur.

• 1364 M – Pagaruyung menggempur Barus. Si Raja Batak yang menetap di sana menyingkir dan mundur ke Toba.

• 1365 M – Puncak kejayaan Majapahit di bawah pimpinan Prabu Hayam Wuruk. Kakawin Nagarakretagama selesai ditulis oleh Prapanca, yang menyebutkan daftar wilayah kekuasaan Majapahit dan negeri-negeri sahabatnya.

• 1375 M – Prasasti Batusangkar. Ananggawarman naik tahta di Pagaruyung menggantikan Adityawarman.

• 1376 M – Adityawarman wafat.

• 1377 M – Pagaruyung, Palembang, dan Dharmasraya melancarkan pemberontakan terhadap hegemoni Majapahit.
Dapat ditumpas oleh pasukan Majapahit, namun Pagaruyung berhasil memerdekakan diri.

• 1379 M – Ayutthaya melancarkan invasi ke semenanjung Malaya, menyebabkan Majapahit kehilangan kontrol atas wilayah tersebut. Ayutthaya juga menganeksasi Singapura.

• 1380 M – Kerajaan Pekantua berdiri di Pelalawan sebagai bawahan Majapahit, didirikan oleh seorang bangsawan Singapura yang mengungsi setelah negerinya ditaklukkan oleh Ayutthaya.

• 1389 M – Parameswara, seorang pejabat Majapahit dari Palembang dan keturunan bangsawan Bintan merebut Singapura dari Ayutthaya dan mengangkat dirinya sebagai raja yang merdeka di sana.

• 1398 M – Majapahit menaklukkan Singapura. Parameswara berhasil meloloskan diri ke Malaya dan menetap di Malaka.

ABAD KE 15

• 1402 M – Parameswara mendirikan kerajaan Malaka sebagai bawahan Ayutthaya.

• 1405 M – Ekspedisi laut dinasti Ming pimpinan Laksamana Cheng Ho mengunjungi negeri-negeri di sepanjang pantai timur Sumatra dan Malaya. Melalui bantuan Ming, Malaka dan Pasai memproklamasikan kemerdekaan mereka dari Ayutthaya dan Majapahit. Aru dan negeri-negeri di Aceh kemungkinan ikut melepaskan diri dari Majapahit.

• 1406 M – Puncak kejayaan kesultanan Pasai dibawah pimpinan Sultanah Nahrasyiyah.

• 1408 M – Ekspedisi Cheng Ho kembali mengunjungi Sumatra. Malaka memperluas wilayahnya dengan menguasai pesisir selatan Malaya dari Selangor sampai Johor, serta merebut Singapura dari Majapahit.

• 1409 M – Majapahit melancarkan agresi militer terhadap Pagaruyung. Pertempuran besar terjadi di Padang Sibusuk. Pasai menaklukkan Pidie.

• 1411 M – Perang Majapahit-Pagaruyung berakhir dengan kekalahan pasukan Jawa. Majapahit juga kehilangan kontrol atas daerah Siak, Kampar, dan Indragiri, yang kemungkinan besar direbut oleh Pagaruyung.

• 1412 M – Ekspedisi Cheng Ho untuk kesekian kalinya kembali mengunjungi Sumatra. Cheng Ho mengajak penguasa Aru, Sultan Husin untuk menghadap Kaisar Yong Le di Beijing.

• 1414 M – Parameswara memeluk Islam dan mendapat gelar Sultan Iskandar Syah. Malaka pun menjelma menjadi kesultanan. Tak lama kemudian, sang Sultan wafat dan digantikan oleh putranya, Megat Iskandar Syah.

• 1415 M – Kaisar dinasti Ming mengakui kedaulatan Majapahit atas Palembang.

• 1431 M – Utusan terakhir Aru ke negeri Cina. Setelah itu, Aru berhenti mengirim utusan kepada Kaisar Ming. Kemungkinan besar akibat negeri itu telah menjadi bawahan Malaka melalui pernikahan politik. Tokoh legendaris Hang Tuah diperkirakan lahir.

• 1445 M – Kerajaan Siantar muncul di Simalungun, kemungkinan memerdekakan diri dari Aru.

• 1458 M – Sultan Mansur Syah naik tahta di Malaka. Ia mengangkat Hang Tuah sebagai laksamana militer, yang kemudian memimpin penaklukkan atas Pahang, Terengganu, Riau, dan Kampar. Malaka juga mendapatkan Keritang dan kepulauan Siantan (Anambas) melalui pernikahan politik dengan putri Majapahit.

• 1459 M – Puncak kejayaan Malaka di bawah pimpinan Mansur Syah. Ia mendapat gelar Mansur Pasha dari Sultan Muhammad Al-Fatih, penguasa kesultanan Turki Ottoman (Utsmaniyah).

• 1460 M – Puti Selaro Pinang Masak mendirikan kerajaan Jambi di Batanghari sebagai bawahan Majapahit.

• 1477 M – Sultan Mansur Syah wafat.

• 1478 M – Pusat pemerintahan Majapahit di Jawa dikuasai kaum oposisi. Salah satu pangeran Majapahit yang menjadi pemimpin wilayah Demak memerdekakan diri.

• 1482 M – Kerajaan Sunda Pajajaran diperkirakan merebut Lampung dari Majapahit.

• 1496 M – Kerajaan Aceh berdiri di Aceh Besar sebagai bawahan Lamuri.
• 1500 M – Kebudayaan maju berkembang di kepulauan Mentawai dan pulau Enggano. Rangkayo Hitam naik tahta di Jambi.

ABAD KE 16

• 1505 M – Pekantua menjadi kesultanan Islam.

• 1507 M – Aceh menjadi kesultanan Islam.

• 1508 M – Keritang berganti nama menjadi Indragiri dan menjadi kesultanan setelah raja terakhirnya, Nara Singa II memeluk Islam.

• 1509 M – Bangsa Portugis untuk pertama kalinya tiba di Malaka, namun masih sebagai pedagang. Di tahun yang sama, Malaka menaklukkan Kelantan, Perak, dan Patani.

• 1511 M – Portugal melancarkan invasi terhadap Malaka dan berhasil menaklukkan ibukotanya. Ini menandai dimulainya penjajahan bangsa Eropa di Nusantara. Sultan Mahmud Syah mundur ke Bintan dan mendirikan pemerintahan darurat di sana. Aru mengambil kesempatan untuk memerdekakan diri dari Malaka, kemudian menundukkan Siantar. Jejak terakhir mengenai Laksamana Hang Tuah. Ia dipercaya menetap di Singapura, sebelum diperkirakan pindah ke Palembang atau kembali ke Malaka, menghabiskan sisa hidupnya di salah satu kota itu.

• 1512 M – Ali Mughayat Syah menjadi pemimpin Aceh dan memerdekakan negerinya dari Lamuri. Ayutthaya kembali merebut Patani. Kekuasaan Majapahit di Sumatra kemungkinan diambil alih oleh Demak sebagai persiapan penyerangan ke Malaka. Tome Pires, seorang pengelana Portugis menetap di Malaka selama 3 tahun kemudian mengunjungi Sumatra. Ia mengabadikan kisahnya ke dalam karya tulisnya, Suma Oriental.

• 1513 M – Panglima Demak, Pati Unus mengirim ekspedisi militer ke Malaka, namun menemui kegagalan.

• 1514 M – Aceh menaklukkan Lamuri. Kudeta di Pagaruyung. Maharaja Dewana dilengserkan oleh Dewang Parakrama dari Dharmasraya. Namun ia hanya dapat menguasai daerah pedalaman saja, sementara wilayah pesisir masih setia pada Dewana yang mendirikan pemerintahan darurat di Koto Anau, Solok.

• 1515 M – Parakrama menaklukkan Luhak Limapuluh. Ia kemudian menjalin hubungan diplomatik dengan Portugal, ditandai dengan pengiriman tiga orang duta besar Pagaruyung ke Malaka.

• 1519 M – Sultan Mahmud Syah mengirim armada perang pimpinan Hang Nadim (putra Hang Jebat, sahabat Hang Tuah) menuju Malaka untuk merebut kembali kota tersebut, namun menemui kegagalan.

• 1520 M – Aceh memulai ekspansi militer untuk menguasai pesisir utara Sumatra. Daya dan Pidie berturut-turut jatuh ke dalam kekuasaannya. Raja Manghuntal lahir di Batak.

• 1521 M – Portugal menaklukkan Pasai. Demak kembali menyerbu Malaka, namun kembali menemui kegagalan dan bahkan menewaskan Pati Unus yang kala itu telah menjadi Sultan.

• 1524 M – Aceh merebut Pasai dari Portugal, kemudian menaklukkan Singkil, Barus, dan Simeulue. Hang Nadim kembali memimpin ekspedisi militer terhadap Malaka. Meski sempat mengepung benteng dan hampir berhasil mengalahkan pasukan Portugis, namun armada Hang Nadim terpaksa mundur kembali setelah Portugis mendapat bala bantuan dari koloninya di Goa, India. Tak lama kemudian, Hang Nadim wafat di Bintan. Pagaruyung kembali bersatu di bawah pimpinan Maharaja Dewana setelah ia berhasil mengusir Parakrama, yang melarikan diri ke Kerinci, namun kemudian ditangkap dan dihukum mati oleh Raja Jambi Rangkayo Hitam.

• 1525 M – Portugal menggempur Pagaruyung. Mereka sempat menduduki wilayah Rantau Mudik (pesisir barat), sebelum laskar Minang berhasil mengusir mereka setelah pertempuran sengit di Pasaman.

• 1526 M – Pasai berganti menjadi bawahan Aru. Portugal melancarkan agresi militer terhadap Bintan untuk menghancurkan sisa-sisa Malaka, memaksa Sultan Mahmud Syah untuk berpindah ke Kampar. Hatorusan merebut Panai dan Mandailing dari Aru, membuat keduanya menjadi bagian dari Tanah Batak.

• 1527 M – Di Jawa, Demak menundukkan Majapahit, mengakhiri riwayat negeri tersebut. Kesultanan itu juga menaklukkan kota Kalapa di Pajajaran yang telah didatangi orang-orang Portugis, kemudian lanjut menguasai wilayah Banten. Ekspansi ini praktis memutus hubungan Pajajaran dengan Lampung, memecah wilayah itu menjadi tiga keratuan: Pugung, Balau, dan Skala Brak.

• 1528 M – Sultan Mahmud Syah wafat di Kampar, mengakhiri riwayat kesultanan Malaka. Kedua putranya lalu meninggalkan Kampar dan masing-masing mendirikan kesultanan Johor dan Perak yang muncul sebagai dua kekuatan baru di Tanah Melayu. Johor lalu merebut kembali Bintan dari Portugal.

• 1530 M – Ali Mughayat Syah wafat.

• 1539 M – Sultan Alaiddin Riayat Syah Al-Qahhar naik tahta di Aceh. Ia mengirim ekspedisi untuk menundukkan Aru yang berhasil dengan sukses. Di tahun yang sama, Aceh juga menaklukkan seluruh kawasan pesisir barat di Pagaruyung, kecuali Pasaman. Tak lama kemudian, Maharaja Dewana mengundurkan diri dari tahta Pagaruyung. Kerajaan Indrapura kemungkinan besar merdeka dari Pagaruyung, kemudian lebih mendekatkan diri kepada Aceh, serta memperluas wilayahnya sampai ke Muko-muko di Bengkulu.

• 1540 M – Aru meminta bantuan Johor untuk membebaskan negerinya dari pendudukan Aceh. Armada Johor berhasil mengusir pasukan Aceh. Aru pun mendapatkan kemerdekaannya kembali.

• 1547 M – Aceh mengirim utusan pertamanya ke pusat pemerintahan Turki Ottoman di Istanbul.

• 1550 M – Raja Manghuntal mendirikan dinasti Sisingamangaraja dan kerajaan Bakkara sebagai penguasa baru di Tanah Batak, menggantikan Hatorusan. Johor bekerjasama dengan kerajaan Kalinyamat dari Jawa untuk menggempur Malaka. Meski sempat menduduki kota itu, aliansi ini akhirnya dapat dipukul mundur oleh pasukan Portugis. Palembang merdeka dari Demak setelah negara itu mengalami kemunduran akibat konflik internal. Negeri-negeri di Bengkulu ikut lepas, salah satunya adalah Kerajaan Sungai Serut yang didirikan oleh Ratu Agung, seorang bangsawan kerajaan. Sementara Jambi dan Bangka direbut oleh Johor.

• 1552 M – Kesultanan Banten merdeka dari Demak lalu menjadikan negeri-negeri di Lampung sebagai bawahannya.

• 1560 M – Maharaja Sultan Alif naik tahta di Pagaruyung sebagai penguasa Minang pertama yang memeluk Islam. Pagaruyung pun berevolusi menjadi kesultanan.

• 1562 M – Aceh mengirim duta besar ke Istanbul untuk menemui Sultan Suleiman agar berkenan mengirim bantuan pasukan untuk menghadapi Portugal, Aru, dan Johor.

• 1564 M – Aceh kembali melancarkan agresi terhadap Aru namun berhasil dipukul mundur kembali oleh pasukan bantuan dari Johor.

• 1565 M – Tun Sri Lanang memulai penulisan naskah Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu) di Johor.

• 1567 M – Turki Ottoman mengirim armada perang ke Sumatra untuk membantu Aceh dalam konfrontasinya dengan Portugal, Aru, dan Johor. Pasukan gabungan Aceh-Ottoman ini kemudian kembali menggempur Aru.

• 1568 M – Dewa Syahdan, seorang bangsawan Aru mendirikan kesultanan Langkat di Hamparan Perak setelah berhasil meloloskan diri dari serangan Aceh. Sultan Ali Riayat Syah naik tahta di Aceh. Ia merekatkan hubungan diplomatik dengan Indrapura melalui pernikahan saudaranya dengan putri Raja Dewi.

• 1574 M – Aceh beraliansi dengan Kalinyamat untuk menaklukkan Malaka. Meski sempat membuat Portugis kewalahan, serangan ini juga gagal merebut kota tersebut.

• 1575 M – Aceh menaklukkan Perak.

• 1596 M – Banten menginvasi Palembang, dipimpin langsung oleh Sultan Maulana Muhammad. Meski sempat membuat pasukan Palembang kewalahan, namun armada Banten terpaksa mundur setelah sang Sultan tewas tertembak.

Cornelis de Houtman memimpin ekspedisi dagang pertama bangsa Belanda ke Nusantara. Mereka mendarat di Banten, setelah sebelumnya mengunjungi pulau Enggano.

• 1599 M – De Houtman mengadakan ekspedisi keduanya ke Nusantara. Kali ini ia didampingi adiknya, Frederik de Houtman. Ekspedisi ini lalu berlabuh di Aceh. Namun saat di sana mereka terlibat konflik dengan pemerintah Aceh yang kemudian mengirim satu pasukan pimpinan laksamana wanita Keumalahayati untuk mengusir De Houtman dan krunya. De Houtman sendiri akhirnya tewas di tangan Laksamana Keumalahayati, sementara adiknya menjadi tawanan perang dan dijebloskan ke penjara Aceh selama 2 tahun.

• 1600 M – Erupsi Gunung Sinabung di Dataran Tinggi Karo.

ABAD KE 17

• 1600 M – Kerajaan Inggris mendirikan kompeni EIC, untuk menjalin hubungan dagang dengan negeri-negeri di Timur Jauh.

• 1601 M – Frederik de Houtman dibebaskan dari penjara Aceh. Selama di balik jeruji, ia menghabiskan waktunya menyusun kamus bahasa Belanda-Melayu pertama, yang kelak sangat membantu Belanda dalam komunikasinya dengan negeri-negeri di Tanah Melayu.

Ekspedisi dagang pertama bangsa Inggris ke Nusantara, dibawah pimpinan Sir James Lancaster. Mereka mengunjungi Aceh dan melakukan diplomasi damai dengan Sultan Aceh yang berhasil dengan sukses.

• 1602 M – Belanda mendirikan kompeni VOC. Kongsi dagang ini kemudian mendirikan pos dagang di Johor.

• 1606 M – VOC mengadakan perjanjian dengan Johor untuk merebut Malaka dari tangan Portugal.

• 1607 M – Iskandar Muda naik tahta di Aceh. Pada masa pemerintahannya, Aceh mencapai puncak kegemilangannya.

• 1610 M – Palembang menjalin hubungan diplomatik dengan VOC.

• 1612 M – Naskah Sulalatus Salatin selesai ditulis oleh Tun Sri Lanang. Sultan Iskandar Muda memulai ekspansi militer terhadap negeri-negeri di seantero Tanah Melayu. Langkat menjadi negara pertama yang takluk oleh Aceh. Laskar Aceh berhasil menewaskan pemimpinnya, Dewa Sakti.

• 1613 M – Aceh untuk kesekian kalinya kembali menginvasi Aru. Di tahun yang sama, Aceh juga menyerang Johor.

• 1614 M – Aceh menaklukkan Bintan.

• 1615 M – Perang Aceh-Johor berakhir dengan takluknya Johor. Laskar Aceh lanjut melancarkan serangan gagal terhadap Malaka Portugis. Di tahun yang sama, Aceh juga menaklukkan kerajaan Anak Sungai dan Sungai Serut di Bengkulu. VOC mendirikan pos dagang di Indragiri. Jambi menjadi kesultanan Islam.

• 1616 M – VOC mendirikan pos dagang di Jambi.

• 1618 M – Aceh menaklukkan Pahang di Malaya. Kesultanan Pahang kemudian menyerahkan putri Kamaliah kepada Iskandar Muda sebagai tanda tunduk. Keduanya pun menikah dan sang putri menjadi permaisuri utama di istana Dalam Darud Donya Aceh, bahkan mendapatkan sebuah kediaman pribadi bernama Gunongan yang dibangun oleh Iskandar Muda sendiri atas nama cinta. Kerajaan Balok di pulau Belitung menjadi bawahan kesultanan Mataram dari Jawa.

• 1619 M – Perang Aceh-Aru berakhir dengan kekalahan Aru, mengakhiri riwayat negeri yang telah berusia 361 tahun itu. Sultan Iskandar Muda mendirikan pemerintahan langsung di sana dan mengganti nama Aru menjadi Deli. Laskar Aceh juga merebut Panai dari Bakkara. Iskandar Muda lalu membagi wilayah Simalungun menjadi empat negeri bawahan, yakni Siantar, Panai, Silo, dan Tanoh Jawa. VOC memindahkan pusat pemerintahannya dari Ambon ke Batavia, kemudian menunjuk JP Coen sebagai Gubernur Jenderal kompeni tersebut.

• 1620 M – Aceh berturut-turut menaklukkan Kedah, Patani, Kelantan, dan Terengganu.

• 1622 M – Pos dagang VOC di Indragiri ditinggalkan.

• 1623 M – Aceh menundukkan Indragiri. Sultan Abdul Jalil Syah III naik tahta di Johor yang masih menjadi bawahan Aceh. Ia berhasil membawa kemajuan yang pesat terhadap kesultanan itu. Pos dagang VOC di Jambi ditinggalkan.

• 1624 M – Aceh menaklukkan Riau dan Jambi.

• 1625 M – Depati Tiang Empat, suatu persekutuan bangsawan Bengkulu mendirikan kerajaan Sungai Lemau dan melantik Baginda Maharaja Sakti, seorang pejabat Pagaruyung sebagai pemimpinnya.

• 1627 M – Tuan Sorimangaraja naik tahta di Bakkara dengan gelar Sisingamangaraja IV.

• 1629 M – Aceh menggempur Malaka, namun dapat dipukul mundur kembali oleh armada Portugis.

• 1630 M – Raja Abdul Jalil, putra Sultan Iskandar Muda mendirikan kesultanan Asahan di Tanjung Balai sebagai bawahan Aceh.

• 1632 M – Muhammad Dalik alias Tuanku Gocah Pahlawan, seorang panglima Aceh mendirikan kesultanan Deli sebagai bawahan Aceh di bekas wilayah kerajaan Aru.

• 1633 M – Aceh menginvasi Indrapura setelah negeri tersebut menolak untuk tunduk pada Aceh. Sebagian besar bangsawan Indrapura termasuk penguasanya, Raja Putih, tewas dalam serangan itu. Indrapura pun resmi menjadi bawahan Aceh. VOC mendirikan pos dagang di Bengkulu.

• 1636 M – Sultan Iskandar Muda wafat. Iskandar Thani naik tahta menggantikannya. Johor dan negeri-negeri bawahannya kemudian memerdekakan diri dari Aceh. Palembang menjadi bawahan Mataram.

• 1641 M – Armada VOC-Johor menaklukkan Malaka yang saat itu telah lemah. Portugis pun terusir dari Malaya dan Malaka menjadi bagian dari kompeni VOC Belanda.

• 1642 M – VOC mendirikan pos dagang di Palembang.

• 1651 M – Sultan Ageng Tirtayasa naik tahta di Banten. Ia mengirim ekspedisi militer pimpinan Bupati Nusantara untuk menumpas perompak yang bersarang di Bangka sekaligus menanamkan kekuasaan di pulau tersebut.

• 1653 M – Tuanku Gocah Pahlawan wafat. Tuanku Panglima Perunggit naik tahta sebagai Sultan Deli menggantikan ayahnya.

• 1658 M – Beberapa bangsawan Palembang melakukan pembajakan terhadap dua kapal milik pejabat VOC akibat kecurangan yang kerap mereka lakukan saat berdagang.

Para bangsawan Palembang membunuh sebagian besar pejabat itu termasuk Cornelis Ockerz, pemimpin perwakilan dagang Belanda di Palembang, serta menawan sisanya.

• 1659 M – VOC menghancurkan pusat pemerintahan Palembang di Kuto Gawang, memaksa Pangeran Seda Ing Rajek, penguasa Palembang kala itu mengungsi ke pedalaman Ogan Komering Ilir. Tak lama kemudian, ia wafat dalam pelarian. Sri Susuhunan Abdurrahman naik tahta menggantikannya, lalu mengubah Palembang menjadi sebuah kesultanan Islam. Ia mendirikan ibukota baru di Beringin Janggut yang dikelilingi empat sungai. Abdurrahman lalu menganeksasi Rejang dan Tulang Bawang, serta mendapatkan Bangka melalui pernikahannya dengan putri Bupati Nusantara.

• 1661 M – Seluruh Belitung jatuh ke tangan Mataram setelah Ki Gede Yakob, penguasa Balok berhasil menundukkan seluruh pulau tersebut atas restu pemerintah Mataram.

• 1662 M – Indrapura merdeka dari Aceh. VOC kemudian mendirikan pos dagang di negeri itu.

• 1666 M – Jambi memerdekakan diri dari Johor. Perang saudara pun meletus di antara keduanya. Wilayah Rantau Mudik melepaskan diri dari pengaruh Aceh dan bersatu kembali dengan Pagaruyung.

• 1668 M – Barus merdeka dari Aceh. Penduduk di kepulauan Nias kemudian menyatakan bergabung dengan Barus. VOC mendirikan pos dagang di Barus dan Padang.
Negeri-negeri di Bengkulu menjadi kontrol Banten.

• 1669 M – Tuanku Panglima Perunggit memerdekakan Deli dari Aceh.

• 1673 M – Perang sipil Johor-Jambi berakhir dengan kekalahan Johor. Armada Jambi menjarah pusat kekuasaan Johor di Batu Sawar, kemudian meninggalkannya begitu saja. Kemungkinan pos VOC di sana ikut dibumihanguskan.

• 1677 M – Palembang menjadi negara merdeka setelah Mataram mengalami kemunduran akibat serangan Trunojoyo dari Madura yang hampir menghancurkan pusat pemerintahan negeri itu, serta akibat perjanjian dengan VOC yang merebut sebagian besar pesisir utara Jawa yang otomatis memisahkan Mataram dengan negeri-negeri bawahannya di luar Jawa.

• 1680 M – Puncak kejayaan Banten di bawah pimpinan Sultan Ageng Tirtayasa.

• 1681 M – Cornelis Speelman ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal VOC.

• 1683 M – Banten menjadi bawahan VOC setelah pusat pemerintahan negeri itu digempur dan diduduki oleh armada VOC yang bekerjasama dengan salah satu pangeran Banten yang memberontak.
VOC bahkan berhasil menangkap Sultan Ageng Tirtayasa dan melengserkannya.

• 1685 M – Raja Mahmud naik tahta di Johor, bergelar Sultan Mahmud Syah II. Pada masa pemerintahan nya, Johor mengalami zaman kegelapan akibat tabiat sang Sultan yang kejam, zalim, serakah, dan cenderung menyukai sesama jender.
1685 Kompeni EIC Inggris mendirikan pos dagang di Bengkulu.

• 1692 M – EIC memperluas pengaruhnya hingga ke sepanjang pesisir Bengkulu utara.

• 1695 M – Alexander Hamilton dari Inggris mengunjungi Johor. EIC meluaskan wilayah ke kerajaan Anak Sungai di Muko-muko.

• 1697 M – Pangeran Raja Luwih, seorang bangsawan Banten mendirikan kerajaan Kaur di Bengkulu selatan.

• 1699 M – Sultan Mahmud Syah II tewas di tangan Megat Seri Rama setelah serangkaian peristiwa memilukan di lingkungan istana negeri Johor. Kekuasaan dinasti Malaka pun berakhir karena sang Sultan belum meninggalkan keturunan. Sultan Abdul Jalil Syah IV dari dinasti Bendahara dilantik menjadi penguasa Johor yang baru.

ABAD KE 18

1701 M – Rakyat Indrapura menyerang pos dagang VOC di negeri tersebut. Akibatnya, VOC membalas dengan melancarkan pembantaian dan perampokan besar-besaran terhadap penduduk Indrapura, serta memusnahkan seluruh tanaman lada yang merupakan komoditas utama negeri itu. Rajanya pun terpaksa mengungsi ke pegunungan, sementara VOC mulai turut campur tangan dalam suksesi pemerintahan Indrapura. EIC memperluas pengaruhnya ke negeri-negeri di Bengkulu selatan.

• 1706 M – Sultan Abdurrahman wafat. Putranya naik tahta sebagai Sultan Palembang menggantikannya dengan gelar Sultan Muhammad Mansur Jayo Ing Lago. Ia memimpin penaklukkan terhadap Batanghari (Muara Tembesi) di Jambi.

• 1708 M – Di Malaya, Tun Zainal Abidin mendirikan kesultanan Terengganu sebagai bawahan Johor.

• 1714 M – Inggris memulai pembangunan Fort Marlborough di Bengkulu. Perebutan tahta di Palembang. Jambi kemungkinan memanfaatkan situasi ini untuk merebut kembali wilayah Batanghari.

• 1715 M – Awal perpecahan pemerintahan di Johor. Suatu komunitas Bugis yang menetap di Selangor menjarah Kedah yang masih dibawah kendali Ayutthaya. Johor yang membawahi Selangor segera mengklaim Kedah, namun orang-orang Bugis tidak mengakuinya dan menolak untuk tunduk pada pemerintahan pusat negeri itu.

• 1717 M – Raja Kecil, putra Sultan Mahmud Syah II yang lahir di Minangkabau menjadi penguasa di Riau dan menolak untuk tunduk pada pemerintah pusat Johor.

• 1718 M – Kudeta di Johor. Raja Kecil menjadi penguasa Johor dengan gelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah, setelah ia menyingkirkan Sultan Abdul Jalil Syah IV.

Pemberontakan rakyat di Bengkulu menentang kolonialisme Inggris, dapat dipadamkan oleh EIC.

• 1719 M – Inggris mendirikan kota Bengkulu, bersamaan dengan selesainya pembangunan Fort Marlborough. Di tahun yang sama, muncul pemberontakan di Muko-muko yang dipimpin oleh Sultan Mansyur dan Sultan Sulaiman. Mereka berhasil merebut kembali daerah itu, memaksa EIC untuk angkat kaki dari sana.

• 1720 M – Perebutan tahta di Deli.

• 1722 M – Kudeta di Johor. Tengku Sulaiman, putra Abdul Jalil Syah IV beraliansi dengan laskar Bugis pimpinan Yang Dipertuan Muda untuk merebut tahta Johor dan melengserkan Raja Kecil, yang kemudian mengungsi ke Bintan.

• 1723 M – Raja Kecil mendirikan kesultanan Siak di Buantan, hilir sungai Jantan, didukung oleh komunitas Orang Laut yang tersebar di kepulauan Riau. Kesultanan Serdang memerdekakan diri dari Deli akibat konflik perebutan tahta yang tak kunjung usai.

• 1724 M – Raja Kecil yang bergelar Sultan Abdul Jalil mulai melakukan perluasan wilayah. Berturut-turut Rokan dan Bintan jatuh ke dalam kekuasaan Siak.
EIC kembali menanamkan kekuasaan di Muko-muko setelah melakukan perjanjian yang lebih lunak dengan para penguasa Bengkulu.

• 1725 M – Di Malaya, Terengganu merdeka dari Johor.

• 1728 M – Di bawah perintah Tengku Sulaiman, laskar Bugis pimpinan Yang Dipertuan Muda merebut Bintan dari Siak. Pusat pemerintahan Johor kemudian dipindahkan ke pulau itu. Sebagai balas budi, Tengku Sulaiman menghadiahkan pulau Penyengat kepada Yang Dipertuan Muda dan laskar Bugis-nya.

• 1736 M – Pos dagang VOC di Barus ditinggalkan. Penguasa Barus bekerjasama dengan Bakkara dan Aceh mengusir seluruh pejabat VOC yang ada di sana karena melakukan praktik monopoli yang merugikan perekonomian setempat.

• 1745 M – Di Malaya, Selangor merdeka dari Johor.

• 1746 M – Raja Kecil wafat. Tengku Buang Asmara naik tahta menggantikannya, bergelar Sultan Muhammad Abdul Jalil.

• 1750 M – VOC menganeksasi kota Padang.

• 1760 M – Ibukota Siak dipindahkan ke Mempura. Sungai Jantan diganti namanya menjadi sungai Siak. Kesultanan Siak resmi memakai nama Siak Sri Indrapura. Tak lama kemudian, negeri itu menghadapi konfrontasi dengan VOC Belanda. Pertempuran terjadi di Guntung, dimenangkan oleh pihak Siak. VOC pun untuk sementara terpaksa angkat kaki dari negeri itu.

• 1765 M – Sultan Muhammad Abdul Jalil wafat. Kedudukannya digantikan oleh Tengku Ismail.

• 1766 M – Dualisme kepemimpinan di Siak Sri Indrapura. Tengku Ismail dilengserkan oleh Tengku Amaluddin (Sultan Muhammad Ali) yang telah dipengaruhi VOC. Ismail kemudian mundur ke wilayah Orang Laut di Siantan dan menobatkan dirinya sebagai Raja Laut. Negeri Siak pun terpecah menjadi Siak Daratan di Riau pimpinan Amaluddin dan Siak Laut di Siantan pimpinan Ismail.

• 1767 M – Tengku Ismail berturut-turut menaklukkan pulau Bangka dan kesultanan Mempawah di Kalimantan Barat, kemudian meneror kapal-kapal di selat Singapura. Ia juga menanamkan pengaruhnya terhadap negeri Terengganu, Jambi, dan Palembang. Tengku Ismail kemudian menjadi sosok terkenal yang ditakuti oleh para pelaut Eropa sebagai seorang bajak laut yang menguasai perairan di sepanjang pesisir timur Malaya, Laut Cina Selatan, kepulauan Riau, sampai selat Karimata. Di Malaya, Patani merdeka dari Ayutthaya setelah kerajaan itu dihancurkan oleh dinasti Konbaung dari Burma (Myanmar).

• 1771 M – Inggris mendirikan koloni di pulau Pinang (Penang), Kedah.

• 1779 M – Tengku Ismail akhirnya berhasil mendapatkan kembali tahta Siak dari Sultan Muhammad Ali. Kesultanan Siak pun kembali bersatu.

• 1780 M – Siak berturut-turut menaklukkan Deli, Serdang, dan Langkat. Di Malaya, Kelantan merdeka dari Johor.

• 1781 M – Tengku Ismail wafat di Mempura. Tahta Siak kemudian diserahkan kepada Sultan Yahya, putra dari hasil pernikahannya dengan putri Terengganu. Inggris menyerang Padang dan berhasil menguasainya untuk sementara waktu, sebelum diusir kembali oleh armada VOC.

• 1784 M – Raja Haji, penguasa pulau Penyengat melancarkan serangan terhadap Malaka Belanda. Meski hampir berhasil menguasai kota itu, namun pasukan Raja Haji yang merupakan koalisi Melayu-Bugis dapat dipukul mundur oleh armada VOC yang beraliansi dengan Siak. Pertempuran hebat terjadi di teluk Ketapang, dan dimenangkan oleh pihak VOC-Siak. Dalam perang ini, Raja Haji gugur. Ia kemudian mendapat gelar Fisabilillah dari cucunya, pujangga Raja Ali Haji. Di tahun yang sama, armada VOC-Siak juga menaklukkan Selangor.

• 1785 M – Di Malaya, Patani ditaklukkan oleh kerajaan Siam (dinasti Chakri/Rattanakosin).

• 1791 M – Inggris resmi menguasai Pinang, ditandai dengan pengibaran Bendera Persatuan Britania Raya di pulau itu.

• 1792 M – Indrapura runtuh. Negeri itu musnah dihancurkan oleh armada VOC, yang menanamkan kekuasaannya di sana.

• 1793 M – Rakyat Bengkulu menyerang pusat pemerintahan EIC di Bengkulu, menewaskan Kapten Hamilton, pimpinan Angkatan Laut Inggris saat itu. Meski begitu, pihak Inggris dapat memadamkan pemberontakan ini.

• 1795 M – Inggris merebut Malaka dari Belanda, kemudian kembali menyerang Padang dan berhasil mengusir orang-orang Belanda yang ada di sana. Armada Inggris kemungkinan juga menduduki Indrapura.

• 1800 M – VOC secara resmi dibubarkan. Belanda menjadi bawahan Kekaisaran Prancis dalam Perang Napoleon. Wilayah-wilayah yang menjadi koloni Belanda pun secara tidak langsung jatuh ke tangan Prancis.
Di Malaya, Inggris mendapatkan Prai dari Kedah. (Olly Benkoelen)

Kolaborasi Hipmi dengan Pengusaha Muda Bengkulu Dalam Hipmi Fest Bengkulu 2022

Kota Bengkulu >> Ketua Umum BPD HIPMI Bengkulu, Undang Sumbaga, setelah menggelar rapat persiapan akhir HIPMI FEST Bengkulu 2022, Sabtu (10/12), menyampaikan perencanaan HIPMI Fest 2022 siap digelar dengan persiapan maksiamal. Secara umum HIPMI Fest 2022 ini mengusung tema ‘’Menyongsong era ekonomi digital bersama pengusaha muda Bengkulu’’.
Menurutnya event HIPMI Fest ini, mendorong kolaborasi antara beberapa perusahaan yang tergabung dalam HIPMI dengan beberapa UMKM yang ada di Bengkulu, tentu ini menjadi mement untuk mendorong pemulihan ekonomi dalam menciptakan target lapangan kerja baru di tahun 2024 mendatang.

“Ini merupakan kolaborasi yang kita dorong, akan menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya dalam memulihkan kebangkitan ekonomi yang lebih kuat dan target dapat terjadi MOU atau perjanjian bisnis untuk kontrak kerja pada tahun 2024 mendatang,” ujar Undang Sumbaga.

Dalam kegiatan tersebut direncanakan melaksanakan beberapa rangkaian acara selama empat hari, mulai dari tanggal 28 sampai dengan 31 Desember 2022. Adapun dihari pertama aka ada sesi pembukaan, dialnjutkan Bisnis competitions tingkat Perguruan tinggi dan Umum, Kemudian ada pelantikan HIPMI PT BPD HIPMI Bengkulu. Setelah kegiatan tersebut bekerjasama dengan DPMPTSP (Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu), menghadirkan stand pelayanan perizinan OSS terpadu, kemudian ada BANK Access untuk konsultasi akses permodalan KUR, kemudian ada banyak perusahaan-perusahaan anggota HIPMI yang akan melakukan promosi kerjasama dan terakhir ada stand pendaftaran anggota baru HIPMI.

‘’Kami menghadirkan tenant-tenant yang dapat menciptakan kolaborasi yang konkrit untuk anggota HIPMI dan pengunjung dan mengajak masyarakat Bengkulu untuk hadir langsung untuk mengikuti acara HIPMI FEST ini, ’’sampai Ketua Panitia HIPMI Fest 2022, Oki Saputra.

Kegiatan tersebut bertempat di Bengcoolen Mall, mulai 28-31 Desember 2022. Juga diadakan lomba Bisnis kompetisi dan dapatkan hadiah doorprize pengunjung yang beruntung. (***/rls)

Sinergitas Perpusnas dengan Pemprov Bengkulu Dalam Siapkan SDM Berkualitas dan Minat Baca Masyarakat

Muhammad Syarif Bando : Literasi Bentuk Pola Pikir Manusia Maju

Kota Bengkulu >> Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu menyiapkan berbagai langkah dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), yang siap bersaing di era milenial sekarang ini. Upaya tersebut diiringi penyiapan sarana dan prasarana dalam mendukungnya, namun masih saja ada keterbatasan anggaran. Untuk itu Perpustakaan Nasional siap membantu Pemprov Bengkulu dalam merealisasikan upaya yang dihadapi oleh Pemprov Bengkulu.

Hal tersebut disampaikan Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando di hadapan Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah saat peresmian perluasan gedung layanan perpustakaan provinsi Bengkulu, serta talk show Peningkatan Indeks Layanan Masyarakat (PILM) untuk kesejahteraan, pada Senin, (28/11/2022).

“Pada 2023 nanti akan dibangun gedung perpustakaan umum di sekitar wilayah Bengkulu dengan total Rp 30 Miliar,” ujar Kepala Perpusnas M.S Bando.

Iapun menambahkan bahwa optimis dengan dibangunnya perpustakaan di banyak tempat, akan mendorong lahirnya berbagai pemikiran baru, inovasi, serta kreatifitas yang dapat membantu masyarakat lepas dari kebodohan dan ketertinggalan di berbagai aspek kehidupan. Selain itu inovasi pemikiran jauh itu lebih dahsyat 1000x daripada perang fisik.

Sementara dikesempatan yang sama, Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah menyampaikan, jika literasi baik maka akan lebih mudah memahami setiap persoalan. Untuk itu literasi dapat membentuk pola pikir manusia untuk berkembang maju. Dengan kehadiran perpustakaan, menjadi salah satu variabel penting untuk meningkatkan daya baca.

“Kita sudah siapkan lahan yang paling strategis di Bengkulu untuk membuat perpustakaan yang representatif,” ujar Gubernur Bengkulu, Rohidin.

Sementara itu, anggota Komisi X DPR RI Dewi Coryati. Dikesempatan yang sama menyampaikan bergesernya paradigma pelayanan perpustakaan dari konvensional ke digital. Hal ini merupakan bagian dari perluasan akses terhadap pengembangan literasi. Selain itu ia menambahkan sebagian masyarakat bahkan terang-terangan menggunakan internet, untuk mencari segala informasi dan pengetahuan yang dibutuhkan.

“Mereka, terutama generasi muda saat ini bahkan menggunakan medium internet untuk mencari ide-ide baru. Mereka lebih adaptif terhadap perubahan zaman,” imbuh anggota Komisi X DPR RI Dewi Coryati.

Kemudian akademisi dari Universitas Bengkulu Agus Trianto menyampaikan, kehadiran perpustakaan adalah bagian dari atmosfer literasi. Kebermanfaatannya menjadi indikator penting pada peningkatan indeks literasi masyarakat.

Selain itu Kepala Perpusda Bengkulu Meri Sasdi menyampaikan, diperlukan cara-cara unik nan kreatif untuk mengajak masyarakat untuk mau membaca. Seperti yang dicontohkan pegiat literasi Meri Susanti dengan mengenalkan Gerakan Akuarium Literasi.

“Jadi, anak-anak setelah membaca diminta untuk berani menceritakan kembali apa yang dibaca. Bagi yang tampil percaya diri diberikan reward berupa ikan cupang,” tandas Kepala Perpusda Bengkulu Meri Sasdi. (***)

Baru 3 Perusahaan Yang Propernya Merah Yang Harus di Tindak Lanjuti Stake Holder

Kota Bengkulu >> WALHI Bengkulu mendorong penegakan hukum terhadap tiga (3) perusahaan melalui pengaduan resmi ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta APH atas dugaan pelanggaran dan ketidakpatuhan perizinan. Ketiga perusahaan tersebut adalah PT Injatama dan PT Sandabi Indah Lestari ( PT SIL ) di Kabupaten Bengkulu Utara serta PT Bara Mega Quantum ( PT BMQ ) di Kabupaten Bengkulu Tengah. Pengaduan ini bertujuan agar pemerintah segera melakukan penegakan hukum terhadap perusahaan yang mendapatkan peringkat merah dalam Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER). Melalui platform resmi pemerintah, yaitu “lapor.go.id“ dan “pengaduan.menlhk.go.id”. WALHI Bengkulu mengadukan ketiga perusahaan guna mendesak dilakukannya penegakan hukum, dimana perusahaan tersebut diduga kuat melakukan pelanggaran hukum sesuai dengan yang tertuang dalam UUPPLH 32/2009 dan UU 38/2004 Tentang Jalan.

Berdasarkan analisis dan hasil pemantauan lapangan yang dilakukan oleh WALHI Bengkulu, perusahaan pertambangan dan perkebunan yang telah mendapatkan PROPER merah ini, tetap menunjukan ketidakpatuhannya dalam pengelolaan lingkungan hidup. Seperti PT Injatama yang yang diketahui sejak tahun 2017-2021 mendapat peringkat merah dalam hasil penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup yang dikeluarkan oleh KLHK. Perusahaan pertambangan ini juga melakukan aktivitas pertambangan penggalian batu bara di jalan negara sepanjang +-3km yang menghubungkan 14 desa di Desa Gunung Payung Kec. Pinang Raya Kabupaten Bengkulu Utara. Aktivitas penggalian tambang sudah dilakukan sejak tahun 2018, namun baru pada tahun 2020 pihak tambang membuat jalan lain sebagai pengganti jalan negara sepanjang 1,5km yang kondisinya sangat tidak layak. Kemudian berdasarkan surat balasan dari dinas PPUR status jalan tersebut adalah jalan provinsi berdasarkan SK Gubernur Bengkulu No. : W.570.DPU-TR Tahun 2019. Selanjutnya ketidakpatuhan dan pelanggaran perizinan juga dilakukan oleh PT Sandabi Indah Lestari yang diduga mencemari Sungai Air Bintunan dengan limbah pabrik CPO dan izin HGU ( Hak Guna Usaha ) perusahaan seluas 648 hektare berada di Kawasan Hutan Produksi Air Bintunan. Kemudian PT BMQ diduga tidak melakukan reklamasi tambang, yang seharusnya menjadi salah satu dasar pemerintah untuk tidak memperpanjang Izin Usaha Pertambangan ( IUP ) PT BMQ yang telah berakhir pada tahun 2020.

Hal ini menunjukan bahwa program PROPER belum dijadikan acuan untuk mendorong perusahaan untuk tidak melakukan pengerusakan lingkungan ataupun mendorong perusahaan untuk taat terhadap peraturan lingkungan hidup. Padahal, PROPER dilakukan secara langsung oleh pemerintah dengan data yang valid dan dapat menunjukkan bentuk pelanggaran-pelanggaran hukum yang dilakukan oleh perusahaan. Selain itu WALHI Bengkulu juga menilai pemerintah telah melakukan pembiaran terhadap perusahaan-perusahaan yang diduga telah melakukan pelanggaran lingkungan. Padahal jika mengacu pada Pasal 90 ayat (1) UU No. 32/2009, Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup berwenang mengajukan gugatan ganti rugi dan tindakan tertentu terhadap usaha dan/atau kegiatan yang menyebabkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang mengakibatkan kerugian lingkungan hidup. Selanjutnya ketidaktaatan perusahaan ini kemudian dapat dilanjutkan dengan penegakan hukum sesuai bunyi Pasal 48 Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Nomor 1 Tahun 2021 maupun aturan perundangan – undangan lainnya. Kemudian Gubernur Bengkulu juga telah mengeluarkan Surat Nomor 660/079/DLHK/2022 tentang Pembinaan dan Pengawasan serta Penerapan Sangsi yang ditujukan untuk Bupati / Walikota untuk menindaklanjuti SK MenLHK Nomor : SK.1307/MENLHK/SETJRN/KUM.1/12/2021 tentang Hasil Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup Tahun 2020 – 2021.

Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan ( Permen LHK ), PROPER adalah evaluasi ketaatan dan kinerja melebihi ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dibidang pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup, serta pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun ( B3 ). Dasar hukum pelaksanaan PROPER mengacu pada UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 63 dan 64 yang menyatakan bahwa dalam melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap ketaatan penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan terhadap ketentuan perizinan lingkungan dan atau peraturan perundang-undangan perlu diselenggarakan program penilaian tersebut. Yang kemudian dikuti dengan terbitnya Permen LHK Nomor 1 Tahun 2021 Tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup, dimana tujuan diterbitkannya Permen LHK ini guna untuk menjamin kepastian hukum dan memberikan perlindungan terhadap hak setiap orang untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai bagian dari perlindungan terhadap keseluruhan ekosistem.

Dalam kriteria penilaian PROPER terhadap kinerja pengelolaan lingkungan wajib mencakup aspek penilaian yakni, 1. Pengendalian Pencemaran Air; 2. Pemeliharaan Sumber Air (khusus untuk Industri air minum dalam kemasan); 3. Pengendalian Pencemaran Udara; 4. Pengelolaan Limbah B3; 5. pengelolaan limbah non B3; 6. Pengelolaan B3 (khusus untuk Industri Prasarana Jasa Transportasi); Pengendalian Kerusakan Lahan (khusus untuk kegiatan pertambangan); dan Pengelolaan Sampah (khusus untuk Industri Prasarana Jasa Transportasi. (***/rls)

Ini Dia Motivasi Generasi Penerus Bangsa Di Era Milenial

Kota Bengkulu >> Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November memiliki arti tersendiri.
Berbagai cara masyarakat memaknainya, salah satunya dengan membaca kata-kata motivasi dari para pahlawan terdahulu.

Orasi yang sangat menggebu dilantangkan oleh para pahlawan bangsa, membakar semangat masyarakat Indonesia. Semua kalangan dapat bergetar jikala membaca akan orasi tersebut.

Ini dia pesan-pesan pahlawan bangsa yang dapat dijadikan motivasi bagi penerus bangsa:

  1. Pesan Pahlawan Nasional Abdul Muis :

“Jika orang lain bisa, saya juga bisa, mengapa pemuda pemuda kita tidak bisa, jika memang mau berjuang”.

(Menceritakan pengalamannya di luar negeri kepada para pemuda di Sulawesi, ketika Abdul Muis melakukan kunjungan ke Sulawesi sebagai anggota Volksraad dan sebagai wakil SI).

  1. Pesan Pahlawan Nasional Ki Hajar Dewantara :

Ing Ngarso Sung Tulodo (Di depan memberi contoh),

Ing Madyo Mangun Karso (Di tengah memberi semangat),

Tut Wuri Handayani (Di belakang memberi dorongan),

(Semboyan yang diajarkan saat Ki Hajar Dewantara merintis Taman Siswa yang didirikan pada tahun 1922 dan hingga kini masih dipakai dalam dunia pendidikan).

  1. Pesan Pahlawan Nasional Dokter Cipto Mangunkusumo :

“Hari kemudian dari pada tanah kita dan rakyat kita terletak dalam hari sekarang itu ialah kamu, hari generasi muda”.

  1. Pesan Pahlawan Nasional Tjut Nyak Dien :

“Kita tidak akan menang bila kita masih terus mengingat kekalahan”.

  1. Pesan Pahlawan Nasional Gubenur Suryo:

“Berulang-ulang telah kita katakan, bahwa sikap kita ialah lebih baik hancur daripada dijajah kembali”

(Pidato Gubernur Suryo di radio menjelang pertempuran 10 November 1945 di Surabaya).

  1. Pesan Pahlawan Nasional R.A. Kartini :

“Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! 2 patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata “Aku tidak dapat!” melenyapkan rasa berani. Kalimat “Aku mau!” membuat kita mudah mendaki puncak gunung”.

  1. Pesan Pahlawan Nasional Jenderal Sudirman :

“Tempat saya yang terbaik adalah ditengah-tengah anak buah. Saya akan meneruskan perjuangan. Met of zonder Pemerintah TNI akan berjuang terus”.

(Disampaikan pada jam-jam terakhir sebelum jatuhnya Yogyakarta dan Jenderal Sudirman dalam keadaan sakit, ketika menjawab pernyataan Presiden yang menasihatinya supaya tetap tinggal di kota untuk dirawat sakitnya).

  1. Pesan Pahlawan Nasional Prof. Moh. Yamin, SH :

“Cita-cita persatuan Indonesia itu bukan omong kosong, tetapi benar-benar didukung oleh kekuatan-kekuatan yang timbul pada akar sejarah bangsa kita sendiri”.

(Disampaikan pada konggres II di Jakarta tanggal 27-28 Oktober 1928 yang dihadiri oleh berbagai perkumpulan pemuda dan pelajar, dimana ia menjabat sebagai sekretaris).

  1. Pesan Pahlawan Nasional Pattimura :

“Pattimura-pattimura tua boleh dihancurkan, tetapi kelak Pattimura-pattimura muda akan bangkit”

(Disampaikan pada saat akan digantung di Kota Ambon tanggal 16 Desember 1817).

  1. Pesan Pahlawan Nasional Nyi Ageng Serang :

“Untuk keamanan dan kesentausaan jiwa, kita harus mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, orang yang mendekatkan diri kepada Tuhan tidak akan terperosok hidupnya, dan tidak akan takut menghadapi cobaan hidup, karena Tuhan akan selalu menuntun dan melimpahkan anugerah yang tidak ternilai harganya“.

(Disampaikan pada saat Nyi Ageng Serang mendengarkan keluhan keprihatinan para pengikut/rakyat, akibat perlakuan kaum penjajah).

  1. Pesan Pahlawan Nasional Teuku Nyak Arif :

“Indonesia merdeka harus menjadi tujuan hidup kita bersama“

(Disampaikan pada pidato bulan Maret 1945, dimana Teuku Nyak Arif menjadi Wakil Ketua DPR seluruh Sumatera).

  1. Pesan Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai :

“Kami sanggup dan berjanji bertempur terus hingga cita-cita tercapai”.

(Surat I Gusti Ngurah Rai kepada Letnan Kolonel Termeulen, seperti tersalin dalam Bali Berjuang)

  1. Pesan Pahlawan Nasional Supriyadi :

“Kita yang berjuang jangan sekali-kali mengharapkan pangkat, kedudukan ataupun gaji yang tinggi “.

(Disampaikan pada saat Supriyadi memimpin pertemuan rahasia yang dihadiri beberapa anggota Peta untuk melakukan pemberontakan melawan Pemerintah Jepang).

  1. Pesan Pahlawan Nasional Ir. Soekarno :

“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Dan berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.”
(Pidato Hari Pahlawan 10 November 1961)

“Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka”. (Pidato HUT Proklamasi 1963).

  1. Pesan Pahlawan Nasional Moh. Hatta :

“Pahlawan yang setia itu berkorban, bukan buat dikenal namanya, tetapi semata-mata untuk membela cita-cita”

“Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Jangan mengharapkan bangsa lain respek terhadap bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak dan mencuri kekayaan Ibu Pertiwi.”

  1. Pesan Pahlawan Nasional Silas Papare :

“Jangan sanjung aku, tetapi teruskanlah perjuanganku”

(Disampaikan pada saat memperjuangkan Irian Barat / Papua agar terlepas dari belenggu kolonialisme Belanda dan kembali bergabung dengan NKRI).

17.Pesan Pahlawan Nasional Bung Tomo :

“Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga”.
(Pidato Bung Tomo di radio pada saat pertempuran menghadapi Inggris di Surabaya bulan November 1945). (***)

FGD Harmoni Muslim Nusantara, Harga BBM Berkeadilan Subsidi Tepat Sasaran

Jakarta >> Harmoni Muslim Nusantara (HMN) menggelar acara Focus Group Discussion (FDG) dengan tema “Harga BBM berkeadilan Subsidi Tepat Sasaran” di Hotel Ambhara, Blok M, Jakarta Selatan, Jumat (21/10/2022).

Narasumber yang berkesempatan menyampaikan materi dalam forum tersebut adalah Surya Vandiantara, SE.Sy., M.Ag. (Dosen Univ. Muhammadiyah), KH. Luthfi Hakim, MA. (Ketua Umum dan Imam Besar Forum Betawi Rempug), Prof. Dr. Ali Munhanif., M.A.,Ph.D. (Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta), dan FX. Arief Poyuono, SE. (Ketua Umum LPPC19-PEN). Kegiatan FGD bertujuan untuk menanggapi kebijakan pemerintah Indonesia terkait penyesuaian harga BBM yang beberapa bulan ke belakang mendapatkan respon pro-kontra dari masyarakat.

“Dari segi kemampuan negara dalam menopang kenaikan minyak global, negara Indonesia sedang berada dalam fase dilema menghadapi harga minyak. Pemerintah mencoba segala cara untuk menjaga daya beli dan daya tahan masyarakat dengan bantuan langsung tunai (BLT) yang menjadi program utama” jelas Prof. Dr. Ali Munhanif.
Munhanif menambahkan bahwa subsidi BLT BBM saat ini menjadi langkah awal yang harus tepat sasaran dilakukan, agar masyarakat nantinya terbiasa dan tidak bergantung pada harga minyak bersubsidi. Transisi masyarakat diperlukan dalam pemanfaatan subsidi supaya tepat dan berkeadilan.

Sebelumnya Presiden Jokowi mengatakan bahwa selama ini BBM bersubsidi justru dinikmati oleh masyarakat mampu sehingga distribusi BBM bersubsidi dinilai tidak tepat sasaran. Akibatnya beban subsidi yang ditanggung pemerintah terus membengkak dan membebani keuangan negara. Apalagi kenaikan harga minyak dunia juga turut berdampak pada kenaikan harga BBM di Indonesia.

Arief Puyono menambahkan penyesuaian harga BBM saat ini yang dialihkan menjadi subsidi BLT menjadi strategis pemerintah dalam menjaga roda ekonomi nasional ditengah perlawanan ancaman inflasi yang mungkin terjadi.

“Budaya ekonomi di negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia begitu kuat dalam mengutamakan kesejahteraan dan konsumsi masyarakatnya. Hal yang terpenting adalah pengalihan subsidi yang harus dikawal dan terkontrol supaya tepat sasaran dan sampai kepada masyarakat yang terdampak” jelasnya.

Selain BBM, KH. Luthfi Hakim berpendapat bahwa sektor lain yang memerlukan perhatian agar pemanfaatan subsidi berjalan dengan baik adalah peningkatan SDM sehingga kualitas SDM negara meningkat dan tidak lagi bergantung pada subsidi pemberian Pemerintah kedepannya.

“Pengalihan subsidi BBM menjadi perbaikan dalam transportasi juga perlu namun tidak terpusat pada perkotaan. Dukungan peningkatan SDM harus didukung dengan transportasi yang baik. Jika peningkatan SDM dan perbaikan transportasi berjalan bersamaan maka penggunaan anggaran dapat dianggap tepat dan berkeadilan” tambahnya.

Selanjutnya dalam FGD ini, Surya Vandiantara berpendapat bahwa perbaikan produktivitas masyarakat adalah hal wajib yang harus dikembangkan supaya stigma masyarakat bahwa pencabutan subsidi berarti ekonomi melemah harus dihapuskan. Hal tersebut perlu dilakukan demi membiasakan pola pikir masyarakat agar kelak di masa depan bangsa Indonesia dapat terbiasa dengan hal-hal seperti pengalihan subsidi dan penyesuaian harga barang sehingga tidak mengejutkan dan mengganggu kehidupan.

FGD ini juga dihadiri sejumlah mahasiswa dari UIN Jakarta, UNPAM, Budi Luhur, UNJ, STAI Sadra, Universitas Bhayangkara Bekasi, dan Poltekkes Kemenkes Jakarta 2.

Kakanwil Kemenag Zahdi Apresiasi Dalam Penyaluran Potensi PAUD

Kota Bengkulu >> Gebyar dan pentas seni anak-anak PAUD/TK yang digelar oleh forum Komunikasi Guru Pendidikan Agama Islam (FKG PAI) Bengkulu berlangsung meriah, bahkan mendapat sambutan yang positif oleh Kanwil Kemenag Provinsi Bengkulu.

Menurut Kepala Bagian Tata Usaha Drs.H.Hamdani, M.Pd program ini merupakan suatu terobosan yang Patut diapresiasi, karena FKG PAI telah membantu pemerintah mengembangkan kreatifitas dan membangun karakteristik anak sebagai generasi dimasa yang akan datang.

“Karenanya, kegiatan ini kami nilai sangat luar biasa dan patut kita apresiasi,”kata Hamdani mewakili Kakanwil Dr.H.Zahdi Taher.,M.H.I di Asrama Haji Kelurahan Pekan Sabtu Kota Bengkulu. Selasa,(27/9/2022).

Pernyataan ini sejalan dengan tema gelaran pentas seni tahun ini, yakni ‘Mencetak Generasi Millenial Yang cerdasal, sehat, unggul, kreatif dan berakhlakul Karimah.

“Tentu untuk mewujudkan cita-cita tersebut, harus ada peran pemerintah, dewan guru dan orang tua yang memang harus berkolaborasi menciptakan anak-anak berkreatifitas,” ungkapnya.

Dengan demikian Hamdani berharap kepada dewan guru, terutama orang tua untuk jangan bosan untuk berinovasi. Apalagi saat ini guru dituntut harus menjadi guru yang tangguh menghadapi era teknologi digital.

‘’Saat ini teknologi digital sudah sangat luas dalam hal penerapan dan dampaknya. Karena penerapan teknologi digital dalam pemelajaran, terutama disaat pemulih pendidikan pasca Pandemi’ bebernya.

Dikesempatan yang sama, Ketua PKG PAI Kota Bengkulu Dra. Hennatul Putri, M.Pd menambahkan, kegiatan ini diikuti sekitar 700 anak-anak PAUD/TK se-Kota Bengkulu. Kegiatan ini dilaksanakan bertujuan untuk mencetak anak-anak yang cerdas, unggul, kreatif dan beraklakul karimah.

‘’Kegiatan sebenarnya dilaksanakan setiap tahun. Namun karena pandemi Covid-19, baru dilaksanakan kembali pada tahun 2022 ini. Mudah-mudahan dengan situasi pandemi yang sudah meredah, kegiatan gebyar dan pentas seni akan rutin kita laksanakan setiap tahun,’’ pungkasnya.

Sementara itu pembukaan gebyar dan Pentas Seni ditandai dengan pemukulan dol. Acara juga dikemas dengan pembagian doorprize. Selain diikuti ratusan anak-anak PAUD/TK kegiatan juga dihadiri oleh puluhan dewan guru yang tergabung dalam FKG PAI Bengkulu. Hadir juga Kasi Pendidikan Agama Islam Al Mudasir, S.Ag mewakili kakan Kemenag Kota Drs. H. Zainal Abidin, jajaran Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam. (***)